Online24, Maros – Penataan kawasan kuliner Pantai Tak Berombak (PTB) Maros kembali menjadi sorotan setelah para pedagang mengeluhkan turunnya jumlah pembeli usai simulasi penutupan akses jalan diberlakukan. Merespons kondisi itu, Wakil Bupati Maros Suhartina Bohari turun langsung memimpin rapat bersama perwakilan pedagang dan sejumlah organisasi perangkat daerah pada Kamis pagi (26/10/23) di ruang rapat Wabup Maros.
Pedagang Keluhkan Sepi Pembeli
Rapat tersebut digelar untuk menampung keluhan pedagang yang merasa terdampak kebijakan penutupan akses kendaraan di kawasan kuliner PTB Maros. Suhartina mengatakan, pemerintah ingin mencari titik temu agar penataan kawasan tetap berjalan tanpa mematikan aktivitas ekonomi para pedagang.
“Saya mengadakan rapat bersama Dinas Pariwisata, Dinas Perhubungan, Satpol PP, dan perwakilan pedagang untuk menindaklanjuti keluhan mereka setelah simulasi penutupan yang kami lakukan kemarin di Kawasan PTB,” jelas Suhartina.
Penutupan Jalan Dicoba Lagi dengan Pola Baru
Dalam pertemuan itu, pemerintah dan pedagang akhirnya sepakat untuk meninjau kembali simulasi penutupan yang pernah dilakukan. Suhartina menyebut, beberapa ruas jalan utama di kawasan PTB tetap akan ditutup pada malam minggu, namun pemerintah juga menyiapkan lokasi parkir agar pengunjung tetap leluasa datang tanpa membuat arus di area kuliner menjadi semrawut.
“Insya Allah, kami telah sepakat bersama perwakilan pedagang. Kami mendengarkan apa yang mereka inginkan. Oleh karena itu, kami tetap akan menutup beberapa ruas jalan utama pada malam minggu. Kemudian kami akan menyediakan beberapa tempat parkir untuk kendaraan roda dua dan roda empat, seperti di area MPP dan Alun-alun,” terangnya.
Ia menambahkan, petugas Satpol PP dan Dinas Perhubungan akan disiagakan untuk mengarahkan pengunjung ke titik parkir yang telah disiapkan. Menurutnya, langkah ini diambil demi kenyamanan bersama, sekaligus menjaga kawasan kuliner tetap tertib.
Pedagang Minta Akses Tidak Ditutup Total
Koordinator pedagang PTB Maros, H. Syukur, mengatakan simulasi penutupan akses jalan membuat jumlah pengunjung menurun tajam. Dampaknya langsung terasa pada pendapatan pedagang yang bergantung pada ramainya arus pembeli di kawasan tersebut.
“Kendala utama para pedagang adalah jumlah pengunjung yang masuk ke PTB agak berkurang sehingga pendapatan mereka juga turun dengan drastis. Kami berharap agar Pemerintah memberikan perhatian khusus kepada para pedagang yang berjualan di Kawasan PTB Maros,” ujarnya.
H. Syukur menyebut ada sekitar 100 pedagang yang menggantungkan hidup di kawasan kuliner PTB Maros. Ia berharap pemerintah bisa memberi kebijakan yang lebih luwes, termasuk membuka akses sepeda motor dan hanya mengatur mobil dengan sistem drop-off.
Keluhan serupa juga disampaikan pedagang lain, Nurdin Tuppu, yang menilai aturan baru membuat pembeli enggan masuk ke kawasan kuliner. Menurutnya, kebijakan itu seharusnya mempertimbangkan kondisi lapangan agar tidak justru menekan usaha kecil yang berjualan di sana.
Sebelumnya, Dinas Pariwisata Kabupaten Maros telah menerapkan larangan kendaraan masuk ke Kawasan Kuliner Pantai Tak Berombak (PTB). Kebijakan ini muncul setelah masyarakat mengeluhkan parkir kendaraan yang semrawut dan kerap menyempitkan akses jalan di kawasan tersebut.





