Ibu Kota Prabowo Subianto

by -397 Views

Lebih dari enam dekade lalu, Presiden Brasil Juscelino Kubitschek membuat keputusan yang semula terdengar mustahil: memindahkan ibu kota dari Rio de Janeiro ke kawasan hutan di tengah negeri yang kemudian dikenal sebagai Brasilia. Langkah itu bukan sekadar soal alamat pemerintahan, melainkan pernyataan politik bahwa pembangunan Brasil tak boleh terus menumpuk di pesisir. Kubitschek ingin pusat pertumbuhan bergeser ke pedalaman, sekaligus membuka jalan bagi pemerataan ekonomi yang lebih luas.

Keputusan yang dulu dianggap nekat

Pada masanya, gagasan itu memicu perdebatan keras. Sebagian pihak menyebut Kubitschek visioner karena berani memikirkan masa depan jangka panjang. Namun, tak sedikit pula yang menilainya terlalu berani, bahkan dianggap ide gila. Pertanyaan soal biaya juga terus muncul. Meski begitu, ia tetap melangkah dan membangun ibu kota baru dari nol, sesuatu yang sebelumnya berkali-kali diwacanakan tetapi tak pernah benar-benar terlaksana.

Duta Besar Brasil untuk Indonesia, Rubem Antonio Barbosa, mengatakan, “Sejarah mencatat keputusan dan keberhasilan Kubitschek memindahkan ibukota ke Brasilia sebagai keputusan yang tepat.” Ia menambahkan, “Penyebaran populasi pun menjadi lebih merata; dan sebagai tolok ukur keberhasilan [ekonomi] Brasilia kini memiliki pendapatan per kapita tertinggi di Brasil [bahkan di Latin Amerika],” pungkasnya.

Brasilia dan pelajaran dari pemindahan pusat kekuasaan

Tentu, Brasilia bukan kota tanpa persoalan. Namun sejak 1987, kota itu telah diakui UNESCO sebagai Situs Warisan Dunia berkat arsitektur modernis dan rancangan tata kota yang khas. Dari sini terlihat bahwa pemindahan ibu kota bukan hanya urusan administratif, tetapi juga strategi membentuk arah baru sebuah negara.

Dalam 100 tahun terakhir, lebih dari 30 negara diketahui telah memindahkan ibu kotanya mengikuti perubahan zaman dan kebutuhan pembangunan. Indonesia kini berada dalam konteks serupa. Pemindahan ibu kota ke Nusantara tidak semata memindahkan pusat pemerintahan, melainkan juga menata ulang prioritas pembangunan, memperluas pemerataan kesejahteraan, dan menggeser pusat gravitasi ekonomi-politik ke wilayah yang baru.

Nusantara dan babak baru Indonesia

Seperti Brasil pada masa Kubitschek, langkah ini tentu tak lepas dari risiko, kritik, dan keraguan. Namun sejarah juga menunjukkan bahwa keputusan besar kerap baru terlihat hasilnya setelah waktu berjalan. Indonesia kini perlahan memasuki babak baru dalam sejarahnya, dan babak itu bernama Nusantara.

*Tulisan ini sebelumnya telah terbit di instagram @hamdan.hamedan