Nama Marsekal Pertama TNI Anumerta Iswahjudi menempati tempat penting dalam sejarah TNI Angkatan Udara. Ia bukan sekadar tokoh perintis, melainkan bagian dari fondasi awal yang membentuk identitas matra udara Indonesia. Bagi sebuah angkatan bersenjata, sejarah bukan hanya catatan masa lalu, tetapi juga sumber teladan tentang keberanian, disiplin, dan pengabdian. Dalam konteks itu, perjalanan hidup Iswahjudi menjadi salah satu kisah yang layak terus diingat.
Perintis yang Tumbuh dari Masa Perjuangan
Iswahjudi dikenal sebagai salah satu perintis TNI AU Indonesia bersama Adisoetjipto, Abdulrachman Saleh, dan Husein Sastranegara. Kiprahnya sudah terlihat sejak masa perjuangan, ketika ia bergabung dengan Korps Penerbang Sukarela (VVC) untuk memperkuat pemerintah Belanda menghadapi serangan Jepang pada Perang Dunia I. Dalam perjalanan yang penuh risiko itu, Iswahjudi juga pernah ditunjuk sebagai agen sekutu dalam misi rahasia di Jawa.
Langkah-langkah tersebut menunjukkan bahwa sejak awal ia berada di lingkaran tugas yang menuntut keberanian tinggi. Dunia penerbangan pada masa itu belum seperti sekarang, sehingga setiap misi selalu mengandung bahaya besar. Dari situ pula reputasi Iswahjudi sebagai sosok yang siap ditempatkan di garis depan mulai terbentuk.
Kadets Pertama dan Jejak Awal di Dunia Aviasi
Di bidang pendidikan penerbangan, Iswahjudi tercatat sebagai kadet pertama Sekolah Penerbang Adisoetjipto. Status itu menandai posisinya sebagai salah satu figur awal yang ikut membuka jalan bagi lahirnya penerbang-penerbang Indonesia. Kariernya di dunia aviasi kemudian berkembang pesat, sejalan dengan kebutuhan bangsa yang baru merdeka untuk membangun kekuatan udara sendiri.
Setelah kemerdekaan, ia bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Jawatan Penerbangan yang dipimpin Adisoetjipto di Yogyakarta. Dari sana, perannya tidak lagi sekadar sebagai penerbang, tetapi juga sebagai bagian dari struktur yang sedang merintis kekuatan udara nasional dari nol.
Pengabdian yang Berakhir Saat Bertugas
Iswahjudi kemudian dipercaya menjadi Komandan Lanud Maospati, Madiun, dan turut merintis pembangunan Lanud Bukittinggi. Jabatan-jabatan itu memperlihatkan bahwa ia bukan hanya dikenal karena pengalaman terbang, tetapi juga karena kemampuan memimpin dan membangun basis kekuatan udara di berbagai daerah.
Namun, pengabdiannya berakhir saat menjalankan tugas mengambil sebuah pesawat Avro Anson VH-BBY yang baru dibeli oleh pemerintah Indonesia. Dalam tugas itulah ia gugur. Nama Iswahjudi pun melekat sebagai simbol dedikasi penuh seorang prajurit udara yang mengabdikan hidupnya hingga akhir bagi bangsa dan matra yang dibangunnya.
Sumber: https://prabowosubianto.com/marsekal-pertama-tni-anumerta-iswahjudi/
