Pejuang Nasional Sultan Hasanuddin – prabowo2024.net

by -342 Views

Kisah Sultan Hasanuddin kerap muncul sebagai pengingat bahwa sejarah Indonesia dibangun oleh keberanian, keteguhan, dan harga diri yang mahal. Di tengah arus zaman yang membuat banyak orang mudah lupa pada jejak pendahulu, nama Sultan Hasanuddin tetap berdiri sebagai simbol perlawanan dari Timur Indonesia. Ia bukan sekadar raja, melainkan pemimpin yang menolak tunduk pada kehendak VOC saat kepentingan rakyat dan kedaulatan wilayahnya dipertaruhkan.

Ayam Jantan dari Timur yang Tak Gentar

Sultan Hasanuddin lahir di Makassar pada tahun 1631 dan merupakan putra kedua Sultan Malikussaid. Karena keberaniannya, Belanda menjulukinya De Haantjes van Het Osten, yang berarti Ayam Jantan dari Timur. Julukan itu bukan tanpa alasan. Sejak muda, Hasanuddin sudah menunjukkan kecerdasan, kepemimpinan, dan kemampuan berdagang yang membuatnya memiliki jaringan luas.

Ia juga sering dibawa ayahnya dalam pertemuan penting agar memahami diplomasi dan strategi perang. Dalam beberapa kesempatan, Hasanuddin bahkan dipercaya menjadi delegasi untuk menyampaikan pesan ke berbagai kerajaan. Pengalaman itu membentuknya menjadi sosok yang tidak hanya berani, tetapi juga paham cara membaca situasi politik dan ancaman yang datang dari luar.

Menolak Monopoli VOC

Memasuki usia 21 tahun, Hasanuddin mendapat amanat mengurus pertahanan Gowa. Setelah naik takhta, ia menghadapi tekanan besar dari VOC yang ingin menguasai jalur perdagangan di wilayah Timur Indonesia. Di titik inilah sikap kerasnya semakin terlihat. Sultan Hasanuddin menolak monopoli perdagangan karena bertentangan dengan prinsip leluhurnya, bahwa hasil bumi dan laut harus kembali untuk kesejahteraan rakyat.

Di bawah kepemimpinannya, Kerajaan Gowa menjadi kekuatan penting dalam perdagangan Nusantara bagian timur. Sistem ekonomi kerajaan bertumpu pada laut, dan Gowa berkembang menjadi pusat pertemuan pedagang dari berbagai wilayah, termasuk Portugis, Inggris, dan Denmark. Kemajuan itu justru membuat Belanda semakin berkepentingan merebut pengaruh di sana.

Perlawanan yang Berujung Perjanjian Bongaya

Ketegangan antara Sultan Hasanuddin dan VOC memicu rangkaian perang di sekitar Sulawesi Selatan. Ia juga berupaya menyatukan kerajaan-kerajaan kecil agar bisa bersama-sama melawan penjajah. Namun, pada tahun 1667, konflik itu berakhir dengan Perjanjian Bongaya yang justru banyak merugikan pihak Gowa dan rakyatnya.

Dalam perjanjian tersebut, VOC memaksa Gowa-Tallo menerima hak monopoli perdagangan di Timur. Seluruh bangsa Barat harus meninggalkan Gowa kecuali Belanda, dan kerajaan juga diwajibkan membayar denda perang. Meski setelah itu Sultan Hasanuddin masih melakukan perlawanan, hasilnya tidak berpihak kepadanya. VOC tetap mendominasi Makassar, dan masa depan Gowa-Tallo perlahan melemah hingga Sultan Hasanuddin wafat pada tahun 1670.

Sumber: https://prabowosubianto.com/pejuang-nasional-sultan-hasanuddin/