Gagasan bahwa “perut kenyang, otak cerdas” kembali mendapat sorotan, kali ini dari Jeffrey Sachs, ekonom ternama sekaligus Advokat SDG di bawah Sekretaris Jenderal PBB. Dalam sebuah seminar publik bertajuk “Building a Sustainable Future Through Lifelong Learning and Skill Development” bersama Prakerja, Sachs menegaskan bahwa gizi yang baik bukan sekadar urusan kesehatan, melainkan fondasi penting bagi pembangunan berkelanjutan.
Gizi dipandang sebagai investasi, bukan beban
Sachs menilai program makan siang gratis atau makan bergizi gratis adalah kebijakan yang layak didorong negara karena memberi dampak langsung pada kualitas sumber daya manusia. Ia mengaitkannya dengan program makan sekolah yang dijalankan sejak usia dini. Menurut dia, meski biayanya tidak kecil, manfaat jangka panjangnya jauh lebih besar.
“Program ini adalah ide yang sangat baik dan program perbaikan nutrisi yang efektif yang dilakukan oleh negara. Dijalankan mulai dari usia dini dan bekerjasama dengan program makan sekolah. Memang tidak murah tetapi ini adalah salah satu investasi yang memiliki dampak yang signifikan,” kata Sachs.
Ia juga menekankan bahwa asupan gizi yang teratur dapat membantu anak-anak dan ibu hamil terhindar dari stunting serta kekurangan gizi. Pada tahap berikutnya, kebijakan seperti ini ikut menopang proses belajar di sekolah dan menyiapkan tenaga kerja yang lebih berkualitas di masa depan.
Kaitannya dengan SDGs dan arah kebijakan publik
Sebagai advokat SDG untuk Sekjen PBB, Sachs menyoroti bahwa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau SDGs dapat menjadi kerangka untuk menyatukan berbagai program pemerintah, termasuk makan bergizi gratis. Dari 17 tujuan yang ada, ia melihat program semacam ini sangat dekat dengan SDG 2 tentang penghapusan kelaparan dan malnutrisi.
Selain itu, Sachs menyebut SDG 4 tentang pendidikan berkualitas dan SDG 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi sebagai landasan penting agar kebijakan tidak berhenti di bantuan konsumsi semata, tetapi juga mendorong lahirnya individu yang siap bersaing di pasar kerja global.
Prakerja dan pembelajaran sepanjang hayat
Dalam konteks itu, Prakerja disebut Sachs sebagai contoh program pemerintah yang relevan dengan SDGs, terutama karena berfokus pada beasiswa pelatihan dan penguatan keterampilan. Program yang diluncurkan pada 2020 ini telah membantu jutaan masyarakat Indonesia meningkatkan kompetensi dan memperoleh pekerjaan yang lebih layak.
Sachs menilai skema seperti Prakerja bukan hanya membuka akses pelatihan, tetapi juga memberi dukungan finansial dan fasilitas belajar yang membuat masyarakat bisa meningkatkan keterampilan secara gratis. Pesan utamanya jelas: pembangunan berkelanjutan tidak cukup hanya lewat infrastruktur dan angka pertumbuhan, tetapi juga melalui tubuh yang sehat, pendidikan yang kuat, dan keterampilan yang terus diperbarui.
Dalam acara ‘ESD for 2030 Regional Meeting on Transforming the Futures of Education: Mainstreaming Education for Sustainable Development (ESD) in Learning Systems’ di Kuala Lumpur, Cahyo Prihadi, Direktur Pemantauan dan Evaluasi Program Kartu Prakerja, juga menegaskan komitmen Prakerja untuk mendorong pembelajaran sepanjang hayat. “Dengan Prakerja yang memberikan akses pada pelatihan berkualitas, harapannya kita dapat mendorong semangat lifelong learning pada generasi muda untuk menjadi agen perubahan yang positif dan berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan. Keterampilan dapat memberikan kesempatan untuk mendapatkan peluang pekerjaan yang lebih layak. Angkatan kerja yang telah memiliki keterampilan mumpuni, bisa membantu mereka untuk tetap relevan, kompetitif di pasar kerja,” kata Cahyo.
Jika kesehatan, gizi, pendidikan, dan peningkatan keterampilan dijalankan sebagai satu rangkaian kebijakan, percepatan pembangunan bukan lagi sekadar target di atas kertas. Di titik itulah visi Indonesia Emas 2045 memperoleh pijakan yang lebih nyata.
Sumber: prakerja.go.id
