DAILYPANGANDARAN – Nama Jeje Wiradinata mendadak menjadi sorotan dalam peta Pilkada Jawa Barat 2024. Bupati Pangandaran dua periode itu muncul di detik-detik akhir pendaftaran ke KPU Jabar sebagai bakal calon gubernur, sebuah keputusan yang sempat mengejutkan karena sebelumnya nama yang santer disebut adalah Ono Surono. Dalam skema baru tersebut, Jeje Wiradinata berpasangan dengan Ronal Surapradja sebagai bakal calon gubernur dan wakil gubernur.
Kejutan di Menit Terakhir Pendaftaran
Perubahan arah itu terjadi saat PDI Perjuangan hendak mendaftar ke KPU. Publik sempat mengira komposisi pasangan akan mengarah ke nama lain, namun keputusan partai berubah pada menit terakhir. Jeje sendiri mengakui bahwa dirinya sudah mendengar kabar tersebut, meski memilih tidak buru-buru menanggapi sebelum semuanya jelas.
“Iya saya sudah mendengar, tetapi saya tidak ingin ada yang aneh-aneh sebelumnya,” kata Jeje, Jumat (30/8/2024).
Jeje menegaskan bahwa sebagai kader, dirinya akan patuh pada keputusan partai. Ia menyebut apa pun tugas yang diberikan kepadanya akan dijalankan, termasuk jika harus maju dalam kontestasi Jawa Barat. “Apapun tugas yang diberikan pasti akan dilaksanakan. Terkait Cagub dan Cawagub, seperti yang saya sampaikan sebelumnya,” ujarnya.
Jejak Panjang dari Nelayan hingga Panggung Politik
Karier politik Jeje Wiradinata terbilang panjang dan bertahap. Ia dikenal berasal dari keluarga nelayan dan kemudian tumbuh sebagai politisi daerah. Sejak 2014, Jeje menjabat sebagai ketua KUD Minasari (Koperasi Nelayan) di Pangandaran. Di dunia politik, namanya mulai menanjak saat menjadi ketua PAC PDI Perjuangan pada 1999, lalu duduk sebagai anggota DPRD Ciamis selama dua periode, yakni 1999-2004 dan 2004-2009.
Langkahnya ke jabatan eksekutif dimulai saat maju dalam Pilbup Ciamis 2014 sebagai wakil bupati bersama Iing Syam Arifin. Pasangan ini menang dengan dukungan Partai Golkar, PDI Perjuangan, dan PPP, setelah meraih 495.522 suara atau 59,98 persen. Keduanya pun terpilih sebagai Bupati dan Wakil Bupati Ciamis periode 2014-2019, meski Jeje hanya menjabat pada 2014-2015.
Dua Periode Memimpin Pangandaran
Jeje kemudian beralih ke Pangandaran, daerah otonomi baru yang saat itu tengah membangun identitas politiknya sendiri. Pada Pilkada 2015, ia maju bersama H. Adang Hadari (almarhum) dan berhasil mengalahkan dua pasangan lain, yakni Ino-Erwin serta Azizah-Sulaksana. Pasangan Jeje-Adang yang didukung PDI, Golkar, PKS, dan Demokrat unggul dengan 140.463 suara atau 58,66 persen.
Kemenangan itu mengantar Jeje-Adang menjadi Bupati dan Wakil Bupati Pangandaran periode 2016-2020. Pada Pilkada 2020, Jeje kembali bertarung, kali ini bersama Ujang Endin Indrawan. Pasangan nomor urut 1 itu meraih 138.152 suara dan mengungguli Adang Hadari-Supratman yang memperoleh 128.187 suara. Jeje-Ujang kemudian resmi memimpin Pangandaran untuk periode 2021-2024.
Selama menjabat, Jeje juga dipercaya sebagai Ketua Umum KORAL AUP/STP Pusat periode 2017-2022. Sebelum aktif di politik, ia pernah bekerja sebagai Staf Ahli di Samudra Farmindo Luas pada 1987-1991 dan menjadi Manager Produksi PT. Wicakarya pada 1991-1993.
Jeje menempuh pendidikan di SD Negeri 8 Pangandaran, SMP Negeri 1 Pangandaran, lalu SMA Negeri 1 Ciamis. Ia juga menamatkan pendidikan di Politeknik AUP Jakarta pada 1988. Dalam kehidupan pribadi, Jeje menikah dengan Ida Nurlalea pada 1992 dan memiliki dua anak, yakni dr. Ariefianty Pratiwi dan Arief Hikmawan.
Terkait langkah politiknya di Jawa Barat, Jeje menilai pencalonan ini bukan semata soal perebutan jabatan. Ia menyebutnya sebagai bagian dari tanggung jawab politik dan sikap terhadap situasi demokrasi saat ini. “Jadi saya dan Kang Ono di Jabar diberikan opsi. Kang Ono diberikan 3 opsi dan saya 2 opsi. Mungkin hari ini opsi jatuh ke saya,” katanya.
Jeje menambahkan bahwa dirinya melihat penugasan dari partai sebagai bagian dari komitmen menjaga konstitusi. “Itu bukan hanya tentang menang atau kalah, dengan siapa berpasangan. Namun lebih sebagai tanggung jawab terhadap kondisi bangsa saat ini. Tanggung jawab patuh terhadap konstitusi, perintah partai saat ini adalah jihad untuk tegaknya demokrasi Indonesia,” ucapnya.





