Oleh: Prabowo Subianto [diambil dari Buku: Catatan Kepemimpinan Militer dari Pengalaman Bab I]
Nama Hario Kecik selalu muncul sebagai salah satu sosok yang membuat sejarah kemerdekaan terasa hidup, bukan sekadar deretan tanggal dalam buku pelajaran. Bagi saya, kisahnya bukan hanya tentang seorang pejuang muda dari Surabaya, melainkan tentang keberanian yang lahir tanpa kemewahan pendidikan militer formal. Dari seorang mahasiswa kedokteran, ia berubah menjadi tokoh penting dalam Pertempuran Surabaya, sebuah ujian yang benar-benar menguji apakah Proklamasi 17 Agustus 1945 hanya slogan atau tekad yang sanggup dipertahankan dengan darah.
Hario Kecik dan Api Surabaya
Setelah Gubernur Suryo dan Bung Tomo, saya ingin bercerita tentang Hario Kecik. Seusai membaca buku hariannya pada 2015, Memoar Hario Kecik: Otobiografi Seorang Mahasiswa Angkatan, saya semakin memahami betapa besar peran pemuda dalam mempertahankan republik yang baru lahir. Ia bukan politisi, bukan perwira didikan akademi, dan awalnya bahkan tidak mengerti politik. Namun, di tengah situasi yang kacau, ia justru tampil sebagai salah satu tokoh utama dalam perlawanan di Surabaya.
Hario Kecik adalah bagian dari Tentara Pelajar Indonesia (TRIP) dan sempat menjadi komandan Korps Siswa Jawa Timur (CMDT). Teman-temannya memilih dia sebagai pemimpin karena ia pintar di sekolah serta fasih berbahasa Belanda dan Inggris. Dalam momen-momen genting antara Oktober hingga November 1945, kemampuan itu berpadu dengan keberanian yang tidak dibuat-buat. Ia memimpin hanya puluhan orang, tetapi berada di pusaran peristiwa yang kemudian dikenang sebagai pertempuran paling sengit dan berdarah dalam perang kemerdekaan Indonesia.
Senjata Jepang, Pemuda Surabaya, dan Tekad yang Mengeras
Setelah proklamasi kemerdekaan, arek-arek Suroboyo, termasuk Hario Kecik, mengambil alih senjata dari Jepang: senjata api ringan, senapan mesin, hingga meriam. Banyak dari mereka bahkan belum tahu cara menggunakan sebagian persenjataan itu. Dalam memoarnya, Hario juga mencatat bahwa sejumlah prajurit Jepang membantu melatih para pemuda Indonesia, termasuk penggunaan SMR, SMG, meriam, dan meriam anti-pesawat. Di tengah kekacauan pascaperang, bantuan semacam itu menjadi bagian penting dari proses lahirnya kekuatan bersenjata rakyat.
Pada 1 Oktober 1945, Hario menuliskan peristiwa ketika sekelompok orang dan prajurit dari Badan Keamanan Rakyat (BKR) mengepung markas Kempetai di Surabaya untuk merebut senjata Jepang. Ia menggambarkan dirinya bukan sebagai tokoh besar, melainkan hanya satu prajurit di antara massa yang berani. Tidak ada komandan tunggal, hanya dorongan untuk maju bersama. Dari situ kemudian lahir Kepolisian Tentara Keamanan Rakyat (PTKR), yang menjadi pendahulu korps Polisi Militer TNI.
Ujian Sesungguhnya bagi Proklamasi
Pertempuran Surabaya yang memuncak pada 10 November 1945 bukan hanya perang kota. Itu adalah ujian bagi kemerdekaan yang baru diumumkan di Jakarta. Pasukan Sekutu datang membawa kekuatan besar untuk menguji apakah rakyat Indonesia benar-benar bersedia mempertahankan proklamasi tersebut. Dalam pertempuran itu, setidaknya 30.000 orang Indonesia tewas. Di pihak Inggris, diperkirakan lebih dari 5.000 tentara tewas dan terluka.
Kekuatan lawan jauh lebih unggul. Inggris menurunkan lebih dari satu divisi, sekitar 35.000 personel, didukung kapal induk, pesawat tempur, kapal penjelajah, dan meriam. Di hadapan kekuatan sebesar itu, arek-arek Suroboyo bertahan dengan persenjataan yang jauh lebih terbatas. Namun sejarah menunjukkan satu hal penting: perlawanan itu tidak berdiri sendiri. Para pemuda, rakyat biasa, tukang becak, petani, siswa madrasah, hingga kelompok pelajar dan bekas pasukan PETA ikut bergerak dalam satu arus perjuangan yang sama.
Hario Kecik sendiri menulis dengan jujur tentang ketegangan menjelang serangan 10 November. Ia mengakui bahwa mereka bukan ahli militer, bukan prajurit profesional, hanya orang-orang yang ingin tetap merdeka. Ia juga menggambarkan bagaimana para pemuda menggali parit pertahanan di halaman markas di Pasar Besar, saat kapal perang Inggris memasuki perairan Tanjung Perak. Dari sana lahir satu seruan yang merangkum seluruh tekad mereka: merdeka atau mati.
Bagi saya, itulah sebabnya nama Hario Kecik layak terus diingat. Ia menunjukkan bahwa keberanian tidak selalu lahir dari pangkat atau sekolah militer, melainkan dari keyakinan untuk berdiri ketika republik baru diuji. Dan justru dari sosok seperti inilah generasi muda Indonesia bisa belajar bahwa kemerdekaan tidak pernah datang sebagai hadiah.
Source link
