Usaha Kuliner Rumahan Kepiting Rakyat Bikin Lidah Bergoyang Bupati

by -372 Views

Online24, Maros – Berbekal pelajaran dari YouTube, Nurfadillah (29), warga Kelurahan Pallantikang, berhasil mengubah dapur rumahnya menjadi usaha seafood yang mulai diperhitungkan. Di tengah persaingan kuliner yang makin ketat, ia justru memilih jalan sederhana: menjual kepiting dengan harga ramah, tetapi tetap menjaga cita rasa.

Nama Unik yang Lahir dari Kebiasaan Pelanggan

Fadillah merupakan pegawai sekaligus pemilik usaha bernama Kepiting Rakyat Bupati. Nama itu bukan dipilih untuk gaya-gayaan, melainkan muncul dari kebiasaan para pelanggan di awal usaha. Menurut Fadillah, saat usahanya baru berjalan, sejumlah anggota DPRD Maros kerap datang untuk makan kepiting. Tak hanya itu, anak Bupati Maros, Chaidir Syam, juga sering memesan.

“Saat saya memulai usaha, banyak anggota DPRD Maros yang datang untuk makan kepiting, dan juga anak pak bupati sering memesan,” katanya, Kamis, 26 September 2024.

Dari situ, nama usahanya pun melekat dan menjadi identitas yang mudah diingat. Bagi Fadillah, nama tersebut kini ikut membantu mengenalkan produk rumahan yang ia bangun dari nol.

Menu Andalan dari Pasokan Kepiting yang Melimpah

Ia memilih kepiting sebagai menu utama karena bahan bakunya relatif mudah diperoleh. Fadillah menyebut pasokan kepiting masuk setiap hari dalam jumlah besar dari Bone, Pangkep, dan Takalar.

“Bahan baku kepiting mudah saya dapatkan. Setiap hari ada 500 kg kepiting masuk dari Bone, Pangkep, dan Takalar,” ujarnya.

UMKM yang baru dibuka tiga bulan lalu itu kini menawarkan beberapa pilihan olahan, mulai dari kepiting saus tiram, kepiting bakar, kepiting goreng, hingga sup kepiting. Dari seluruh menu, kepiting saus tiram menjadi pesanan yang paling banyak dicari pelanggan.

“Kepiting saus tiram paling favorit di sini,” tambahnya.

Harga Terjangkau, Target Omzet, dan Tantangan ke Depan

Meski berbasis rumahan, harga yang ditawarkan Fadillah cukup bersaing, yakni mulai dari Rp34 ribu. Ia menargetkan omzet rata-rata Rp1,2 juta per hari atau sekitar Rp35 juta per bulan.

Namun, perjalanan usahanya belum sepenuhnya mulus. Fadillah mengaku masih sering menghadapi keraguan dari masyarakat yang menilai harga murah identik dengan kualitas rendah.

“Masyarakat berkomentar kalau kualitas kepiting yang saya jual ini jelek karena harganya murah,” ungkapnya.

Meski begitu, Fadillah tetap optimistis. Ia berharap usahanya bisa berkembang lebih besar dan suatu saat berubah menjadi restoran kepiting yang lebih luas. Saat ini, seluruh aktivitas usaha masih dijalankan dari rumah dengan dua orang pekerja.