Jakarta — Presiden RI Prabowo Subianto mengingatkan publik agar tidak lengah menghadapi arus informasi yang kian deras, terutama saat berita bohong atau hoaks bisa menyebar dalam hitungan detik dan memicu perpecahan. Dalam pernyataannya pada Senin (10/02/2025), Prabowo menegaskan bahwa kebebasan pers tetap harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab untuk menyajikan informasi yang akurat, jernih, dan bisa dipercaya.
Waspada Provokasi yang Memecah Belah
Prabowo menyoroti bahwa ancaman terbesar dari hoaks bukan hanya soal informasi yang salah, melainkan dampaknya terhadap kepercayaan publik. Menurut dia, penyebaran berita palsu, kebencian, dan upaya menumbuhkan ketidakpercayaan antarsesama warga negara dapat menjadi pintu masuk bagi upaya pecah belah. Karena itu, ia meminta semua pihak untuk lebih waspada terhadap narasi yang sengaja dibuat untuk mengganggu persatuan.
Pers Diminta Tetap Pegang Etika Jurnalistik
Di sisi lain, Presiden Republik Indonesia itu juga memberi penekanan pada peran wartawan dalam menjaga kualitas ruang informasi. Ia menilai, pers memiliki posisi penting dalam memastikan dinamika pemberitaan tetap baik, benar, dan akurat demi kepentingan bersama. Prabowo menegaskan, etika jurnalistik tidak boleh diabaikan karena publik berhak menerima informasi yang tidak menyesatkan dan dapat dipertanggungjawabkan.
Pengingat di Tengah Arus Informasi Cepat
Pernyataan Prabowo menjadi pengingat bahwa di era informasi yang bergerak sangat cepat, ketelitian jauh lebih penting daripada sekadar kecepatan. Saat berita dapat tersebar luas tanpa sempat diverifikasi, peran media dan pembaca sama-sama menjadi krusial. Dalam situasi seperti ini, objektivitas dan kehati-hatian bukan sekadar pilihan, melainkan syarat agar ruang publik tetap sehat dan persatuan bangsa tidak mudah digoyang oleh informasi yang menyesatkan.




