Presiden Ingin Ilmuwan Indonesia Berkolaborasi Secara Global

by -356 Views

Presiden Prabowo Subianto kembali menegaskan arah kebijakan yang menempatkan ilmuwan Indonesia sebagai bagian penting dari lompatan besar negara. Bukan hanya diminta bekerja di balik meja laboratorium, para peneliti didorong hadir lebih kuat di ruang publik dan terhubung dengan jejaring global agar kontribusinya terasa langsung bagi pembangunan nasional.

Kolaborasi global jadi kunci

Menurut Noudhy Valdryno, Deputi Bidang Diseminasi dan Media di Kantor Komunikasi Presiden (PCO), Presiden Prabowo melihat kerja sama dengan ilmuwan internasional sebagai jalan yang akan “lebih menerangi” langkah Indonesia menuju negara maju. Pernyataan itu disampaikan Ryno di Jakarta pada Kamis (7 Agustus).

Dalam pandangan Presiden, ilmuwan tidak boleh diposisikan sebagai pelengkap. Mereka justru diharapkan menjadi motor penting untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 8 persen dalam lima tahun ke depan. Peran itu mencakup penguatan industrialisasi nasional, pengembangan hulu, penguasaan teknologi, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Sejalan dengan Asta Cita

Ryno menegaskan bahwa visi tersebut selaras dengan Asta Cita, khususnya pilar keempat yang menekankan penguatan pembangunan sumber daya manusia, sains, teknologi, pendidikan, kesehatan, prestasi olahraga, kesetaraan gender, serta pemberdayaan perempuan, pemuda, dan penyandang disabilitas.

Dengan arah itu, sains dan teknologi diposisikan bukan sekadar sebagai ranah akademik, melainkan sebagai instrumen strategis untuk mempercepat transformasi ekonomi dan memperluas daya saing Indonesia di tingkat global.

KSTI 2025 jadi panggung konsolidasi ilmuwan

Untuk mendukung agenda tersebut, Kementerian Pendidikan Tinggi, Ilmu Pengetahuan, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menggelar Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia 2025 (KSTI) pada 7 hingga 9 Agustus di Sasana Budaya Ganesa (Sabuga), Institut Teknologi Bandung (ITB), Jawa Barat.

PCO menilai forum ini menjadi wadah yang tepat untuk mempertemukan para pakar terbaik tanah air. Menteri Pendidikan Tinggi, Ilmu Pengetahuan, dan Teknologi, Brian Yuliarto, saat membuka KSTI 2025, menyebut konvensi tersebut sebagai inisiatif Presiden Prabowo untuk menyatukan peneliti dan akademisi terkemuka, terutama di bidang STEM—Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika—dalam visi bersama memajukan bangsa.

Dengan tema “Sains dan Teknologi untuk Pertumbuhan Ekonomi dan Keadilan,” KSTI 2025 dirancang sebagai forum kolaboratif yang mempertemukan akademisi, industri, pemerintah, media, dan masyarakat sipil. Hingga pelaksanaannya, lebih dari 2.000 ilmuwan dari berbagai daerah tercatat hadir, menandai besarnya perhatian terhadap agenda penguatan sains dan industri berbasis nilai tambah tinggi.

Brian menyebut KSTI sebagai platform strategis, bukan hanya untuk bertukar gagasan, tetapi juga untuk merapatkan barisan para pemangku kepentingan yang selama ini kerap berjalan sendiri-sendiri dalam mendorong kemajuan teknologi nasional.