Solusi Terbaik untuk Akses Internet di 2.330 Desa

by -260 Views

Menteri Komunikasi dan Digitalisasi, Meutya Hafid, menghadiri peringatan Hari Bhakti Postel ke-80 di Kota Bandung, Jawa Barat, pada Sabtu (27/9/2025) pagi bersama dengan Wakil Menteri dan pejabat Kementerian Komunikasi dan Digitalisasi (Kemenkomdig). Dalam acara tersebut, Meutya mengajak para hadirin untuk mengingat peristiwa bersejarah pada 27 September 1945, ketika Angkatan Muda Pos, Telekomunikasi, dan Telegram (PTT) berhasil merebut Kantor Pos Besar Bandung dari penjajah, yang dianggap sebagai tonggak penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan di bidang komunikasi dan informasi.
Meutya menekankan semangat perjuangan Angkatan Muda PTT sebagai inspirasi dalam menghadapi tantangan digitalisasi saat ini. Ia juga menggarisbawahi pentingnya kemandirian ekonomi dan penguatan jalur distribusi nasional, sejalan dengan arahan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto. Transformasi digital dan ketersediaan infrastruktur komunikasi dianggap sebagai kunci dalam mewujudkan kedaulatan bangsa.
Kemenkomdigi berencana meluncurkan Peraturan Menteri pada tahun 2025 yang menetapkan PT Pos Indonesia sebagai badan usaha komersial dengan tujuan untuk mengubah layanan pos menjadi lebih mandiri, adaptif, dan berkelanjutan. Kolaborasi dengan sektor swasta juga didorong untuk memastikan layanan pos dan digitalisasi dapat menjangkau semua provinsi, termasuk Indonesia Timur yang masih tertinggal dari segi infrastruktur.
Meskipun ada langkah-langkah positif, Meutya juga menyadari masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, terutama dalam meningkatkan konektivitas digital. Saat ini, ada 2.330 desa tanpa akses internet, 2.170 desa tanpa layanan 4G, dan 316 desa/pemukiman yang memerlukan pembangunan infrastruktur telekomunikasi. Presiden Prabowo menargetkan pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen dengan pemerataan digitalisasi dan pembangunan infrastruktur komunikasi yang kuat sebagai salah satu kunci utama. Meutya berharap peringatan Hari Bhakti Postel ke-80 tidak hanya sebagai seremonial, tetapi juga sebagai refleksi atas peran strategis sektor komunikasi dan digitalisasi dalam memajukan Indonesia secara merata.

Source link