Evolusi Bring Me The Horizon: Dari Deathcore ke Musik Alternatif

by -238 Views

Evolusi Bring Me The Horizon: Dari Deathcore ke Musik Alternatif

Bring Me The Horizon atau BMTH bukan sekadar band rock/metal asal Sheffield, Inggris. Sejak terbentuk pada 2004, mereka justru dikenal karena keberanian mengubah arah musik berkali-kali tanpa kehilangan sorotan publik. Di tengah banyak band yang bertahan di satu formula, BMTH memilih jalur yang lebih berisiko: terus bereksperimen, terus bergeser, dan terus memancing perdebatan.

Berawal dari deathcore yang keras dan liar

Formasi awal BMTH diisi oleh Oliver Sykes sebagai vokalis, Lee Malia di gitar utama, Matt Kean pada bass, Matt Nicholls di drum, serta Curtis Ward di gitar ritme. Nama band ini sendiri terinspirasi dari kutipan film Pirates of the Caribbean: The Curse of the Black Pearl. Pada fase awal, BMTH tampil dengan karakter yang sangat agresif dan langsung menonjol lewat album debut Count Your Blessings pada 2006, yang membawa warna deathcore kental dan menarik perhatian para penggemar musik ekstrem.

Namun, perjalanan mereka tidak berhenti di titik itu. Lewat Suicide Season pada 2008, BMTH mulai memperluas pendekatan musikalnya dengan pergeseran ke metalcore. Dua tahun kemudian, mereka kembali menunjukkan bahwa identitas band ini tidak dibangun dari satu gaya saja. Album There Is a Hell Believe Me I’ve Seen It. There Is a Heaven Let’s Keep It a Secret. (2010) menghadirkan lapisan elektronik dan orkestra yang membuat musik mereka terdengar lebih kompleks dan lebih ambisius.

Saat BMTH masuk ke arus utama tanpa kehilangan karakter

Perubahan paling menentukan datang ketika Jordan Fish bergabung sebagai keyboardist dan synthesizer pada era Sempiternal (2013). Kehadiran Fish memberi warna baru yang membuat BMTH lebih mudah menembus pendengar yang lebih luas, sekaligus mempertegas arah mereka menuju suara yang lebih modern. Album ini sering dipandang sebagai titik balik penting yang mengangkat nama BMTH ke level internasional.

Langkah berikutnya datang lewat That’s the Spirit (2015), yang semakin menjauh dari akar ekstrem awal mereka dan bergerak ke rock alternatif dengan sentuhan elektronik yang lebih jelas. Transformasi itu berlanjut pada amo (2019), album yang menunjukkan keberanian mereka menjelajahi pop, EDM, hingga trap tanpa terlihat ragu. Bagi BMTH, perubahan bukan ancaman, melainkan bagian dari identitas.

Eksperimen yang tetap menjaga posisi di puncak perhatian

Pandemi pada 2020 melahirkan proyek Post Human: Survival Horror, yang juga menegaskan kebiasaan BMTH untuk merangkul kolaborasi lintas warna. Di dalamnya, mereka bekerja sama dengan YUNGBLUD, Amy Lee dari Evanescence, dan Babymetal. Kolaborasi semacam ini memperlihatkan bagaimana BMTH tidak hanya bertahan lewat nama besar, tetapi juga lewat kemampuan membaca arah musik yang terus berubah.

Perjalanan BMTH membuktikan satu hal penting: keberanian untuk meninggalkan zona nyaman bisa menjadi kekuatan utama. Dari deathcore yang kasar hingga elektronik-pop yang lebih luas, mereka tetap menjadi salah satu band paling berpengaruh dan paling sulit diprediksi di kancah musik modern.

Source link