Gerakan pengelolaan sampah di Kota Makassar semakin diperkuat dengan adanya program Corporate Social Responsibility (CSR) dari PT Unilever Indonesia Tbk melalui Yayasan Peduli Negeri (YPN). Dalam kegiatan bertajuk “Penguatan Operasional Bank Sampah Menuju Ekonomi Sirkular Kota Makassar”, ratusan Bank Sampah Unit (BSU) mendapatkan dukungan sarana baru untuk meningkatkan tata kelola dan operasional mereka. Acara ini diinisiasi oleh YPN bersama Dewan Lingkungan Hidup Kota Makassar, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), dan UPT Bank Sampah Pusat.
Pada acara tersebut, dilakukan pembacaan doa, laporan program, dan sambutan dari para mitra. Ketua Yayasan Peduli Negeri, Saharuddin Ridwan, menyerahkan simbolis buku tabungan bank sampah kepada Ketua Dewan Lingkungan Hidup Kota Makassar, Hj. Melinda Aksa, sebagai langkah awal dalam menerapkan sistem administrasi baru bagi Bank Sampah Unit. Selain itu, turut diserahkan papan nama dan timbangan duduk kepada perwakilan Bank Sampah Unit di Kota Makassar.
Dukungan CSR ini bertujuan untuk memperkuat sistem pengelolaan sampah yang berbasis masyarakat agar lebih tertib, transparan, dan berdaya ekonomi. Hal ini juga sebagai langkah untuk reformasi sistem administrasi bank sampah di Makassar agar lebih kredibel dan berstandar nasional. Program ini menjadi bukti kolaborasi lintas sektor yang sejalan dengan prinsip Extended Producer Responsibility (EPR) dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
Data dari UPT Bank Sampah Pusat menunjukkan bahwa saat ini terdapat lebih dari 500 Bank Sampah Unit yang aktif di Kota Makassar dengan volume pengumpulan rata-rata 70 ton sampah terpilah per bulan. Dengan adanya dukungan fasilitas baru, diharapkan kapasitas pengumpulan sampah bisa meningkat hingga 30 persen dalam enam bulan ke depan. Kolaborasi ini juga merupakan bagian dari pelaksanaan UU Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah dan UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Program ini menekankan bahwa pengelolaan sampah tidak hanya tentang kebersihan, tetapi juga tentang pemberdayaan ekonomi dan transformasi perilaku warga kota. Melalui berbagai sarana seperti papan nama, timbangan, dan buku tabungan, identitas, transparansi, dan keadilan dalam pengelolaan sampah diwujudkan. Semua pihak yang hadir sepakat untuk terus bekerja sama demi memperluas literasi pemilahan sampah serta mengembangkan sistem bank sampah digital di Kota Makassar.





