Bencana yang melanda tiga provinsi di Pulau Sumatera kembali menunjukkan betapa besar dampaknya ketika cuaca ekstrem memukul wilayah yang luas sekaligus. Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat menjadi daerah yang paling terdampak, dengan kerusakan yang tidak hanya merusak rumah dan fasilitas warga, tetapi juga memutus akses terhadap kebutuhan paling dasar. Hingga Minggu, 30 November 2025, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah korban meninggal dunia mencapai 316 orang, sementara ratusan lainnya masih dinyatakan hilang.
Kebutuhan Warga Makin Mendesak
Di tengah situasi yang masih penuh ketidakpastian itu, kebutuhan akan logistik, pangan, dan dukungan psikososial terus meningkat. Banyak warga kehilangan tempat tinggal, sebagian sulit menjangkau bantuan, dan tidak sedikit yang harus bertahan dalam kondisi serba terbatas. Situasi ini membuat distribusi bantuan menjadi salah satu prioritas utama di lapangan.
Ribuan Paket Sembako Dikirim untuk Korban
Melihat kondisi tersebut, Paguyuban Alumni Akpol 2005 Tathya Dharaka menyampaikan kepeduliannya melalui pengiriman ribuan paket sembako bagi warga terdampak banjir bandang, tanah longsor, dan banjir di Sumatera. Bantuan ini diharapkan dapat menjadi penopang awal bagi keluarga yang sedang berupaya bangkit dari kondisi darurat.
Pengiriman bantuan dilakukan dengan dukungan Kapolres Pelabuhan Tanjung Perak, Ajun Komisaris Besar Polisi Wahyu Hidayat, yang turun langsung mengantar bantuan ke wilayah Sumatera terdampak. Langkah ini menjadi bagian dari upaya mempercepat distribusi bantuan agar bisa segera diterima oleh masyarakat yang membutuhkan.
Solidaritas di Tengah Bencana
Paguyuban Alumni Akpol 2005 Tathya Dharaka menegaskan bahwa pengiriman bantuan tersebut bukan hanya bentuk kepedulian, tetapi juga wujud solidaritas dan kebersamaan keluarga besar alumni dalam menghadapi situasi sulit bersama. Di tengah bencana yang memisahkan banyak warga dari rumah dan kehidupan normal mereka, bantuan logistik seperti sembako menjadi salah satu bentuk dukungan yang paling dibutuhkan.
Melalui bantuan dan doa yang disalurkan, paguyuban itu berharap beban warga Sumatera bisa sedikit berkurang dan proses pemulihan dapat berjalan lebih cepat. Komitmen untuk terus hadir bagi korban bencana pun ditegaskan sebagai bagian dari dorongan agar aksi kemanusiaan tetap bergerak di tengah keterbatasan yang masih dihadapi masyarakat terdampak.





