BBVet Maros Dukung Hilirisasi Peternakan Menuju Ekosistem Perunggasan 2026

by -42 Views

Balai Besar Veteriner (BBVet) Maros telah melakukan pengujian terhadap 101.834 sampel hewan sepanjang tahun 2025. Tujuan dari pengujian ini tidak hanya untuk memperkuat pengendalian penyakit hewan tetapi juga untuk menjamin keamanan produk hewan di wilayah Indonesia Timur. Kepala BBVet Maros, drh Agustia, mengungkapkan bahwa kegiatan ini dilakukan oleh 107 personel, termasuk 26 dokter hewan, yang terlibat dalam fungsi pengujian laboratorium, surveilans, investigasi, dan pendampingan teknis di daerah.

Selama tahun 2025, BBVet Maros berhasil melakukan pengujian sekitar 101 ribu sampel, baik aktif maupun pasif, yang berasal dari delapan provinsi dan 102 kabupaten/kota di wilayah kerja mereka. Sampel aktif diperoleh melalui kegiatan pengambilan langsung di lapangan, sedangkan sampel pasif berasal dari hewan yang dibawa pemiliknya ke BBVet Maros untuk diperiksa.

Agustia juga menjelaskan bahwa Kabupaten Bone menjadi penyumbang sampel terbesar, yang mendominasi hampir sepertiga dari total pengujian. Menurutnya, Bone merupakan wilayah strategis dalam pengendalian penyakit hewan di Sulawesi Selatan. BBVet Maros juga telah melakukan investigasi penyakit hewan di berbagai daerah di Indonesia Timur.

Hasil pengujian menunjukkan adanya penurunan kasus sejumlah penyakit hewan strategis dibandingkan tahun sebelumnya. Kasus rabies, penyakit jembrana, dan brucella melitensis mengalami penurunan signifikan. Meskipun kasus avian influenza pada ayam masih ditemukan, namun juga mengalami penurunan.

Terkait dengan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), sepanjang tahun 2025 ditemukan sekitar 2.000 kasus yang tersebar di berbagai lokasi. Agustia menilai bahwa penurunan kasus penyakit hewan terjadi karena tindak lanjut cepat dari dinas peternakan daerah terhadap rekomendasi teknis yang diberikan oleh BBVet Maros.

Memasuki tahun 2026, BBVet Maros akan terus mendukung program hilirisasi peternakan dengan fokus pada pengembangan ekosistem perunggasan terpadu. Tujuan utamanya adalah menjaga jumlah dan kualitas ternak agar ketahanan pangan dan keamanan produk hewan tetap terjamin.

Source link