Bruno Mars akhirnya kembali ke panggung album solo dengan The Romantic, rilisan yang datang setelah penantian panjang sejak 24K Magic pada 2016. Setelah satu dekade, nama Bruno kembali ramai dibicarakan bukan hanya karena statusnya sebagai bintang pop, tetapi juga karena arah musik yang ia pilih kali ini: lebih nostalgik, lebih lembut, dan jelas mengambil napas dari era Philly soul serta quiet storm.
Album baru yang bermain di wilayah nostalgia
The Romantic berisi sembilan lagu yang merangkai nuansa retro dengan sentuhan produksi modern. Sejak lagu pembuka, Risk It All, warna album sudah terasa berbeda. Lagu ini menghadirkan terompet bergaya mariachi yang bertemu gitar akustik, dengan lirik yang berputar pada soal pengorbanan dalam hubungan. Alih-alih mengejar dentuman besar, Bruno justru memilih pendekatan yang lebih hangat dan intim.
Campuran soul, Latin, dan balada emosional
Di lagu Something Serious, ia menggabungkan elemen Latin klasik dan soul dalam komposisi yang terasa cair. Sementara Cha Cha Cha membawa pendengar ke wilayah Philly soul yang lebih kental, seolah Bruno sengaja menegaskan akar referensi musikal yang menjadi fondasi album ini. Singel I Just Might, yang sebelumnya sudah merajai Billboard Hot 100, juga masuk ke dalam daftar lagu dan memperkuat daya tarik album ini di pasar arus utama.
Bruno Mars juga menunjukkan sisi emosionalnya lewat God Was Showing Off, sebuah lagu yang memuji pasangan dengan balutan soul lembut. Di titik lain, Nothing Left memperlihatkan kemampuannya menjaga keseimbangan antara balada yang sederhana dan aransemen yang terasa megah tanpa berlebihan.
Ditutup dengan harmoni elegan
Album ini berakhir lewat Dance With Me, nomor penutup yang menonjolkan harmoni vokal dan string arrangement yang rapi. Sebagai bagian dari promosi album, Bruno Mars juga disebut akan menggelar tur stadion untuk membawa kembali gaya klasik dalam kemasan modern. Dengan The Romantic, Bruno tidak sekadar merilis album baru, tetapi juga mempertegas arah evolusi musikalnya yang kian matang.
Source link

