Konservasi Berbasis Kebutuhan Manusia

by -86 Views

Dalam wacana tentang konservasi, perhatian biasanya tertuju pada upaya menjaga hutan dan melindungi satwa langka. Pembicaraan kerap terfokus pada hilangnya habitat, menyusutnya jumlah hewan liar, serta meningkatnya konflik antara manusia dan satwa. Namun, Wahdi Azmi, seorang dokter hewan yang berpengalaman dengan konflik manusia dan gajah di Sumatera, menyoroti bahwa pandangan seperti itu seringkali melupakan satu hal vital: keberadaan dan peran manusia dalam rantai ekosistem tersebut.

Pada forum Leaders Talk Tourism, terkait surat edaran Ditjen KSDAE Nomor 6 Tahun 2025, Wahdi memaparkan sebuah gagasan sederhana namun penting bagi konservasi di negeri ini. Menurutnya, mustahil memisahkan keberhasilan konservasi dari kesejahteraan masyarakat yang bermukim di sekitar kawasan tersebut. “Jika warga lokal tidak turut merasakan manfaat, agenda konservasi akan selalu dipandang sebelah mata,” kata Wahdi.

Selama puluhan tahun berkecimpung menangani konflik manusia dan gajah, ia melihat jelas bahwa akar persoalan tidak hanya terletak pada perilaku satwa, melainkan perubahan lanskap akibat ekspansi lahan yang tak memperhatikan aspek sosial-ekonomi. Pergeseran lahan hutan menuju perkebunan atau permukiman membuat ruang satwa liar kian sempit, sementara masyarakat sekitarnya menghadapi tekanan ekonomi yang berat.

Konsekuensinya, konflik antara manusia dan satwa sering tidak terhindarkan. Lebih jauh, Wahdi menyoroti bahwa persoalannya bukan sekadar benturan tersebut, melainkan bagaimana manusia memilih untuk menanggapi dan menyelesaikannya. Selama ini, banyak pendekatan konservasi cenderung proteksionis—menetapkan batas-batas kawasan, membatasi aktivitas masyarakat, serta mengandalkan aturan ketat. Meski tampak logis di atas kertas, kenyataannya sering menciptakan jurang antara program konservasi dan keseharian warga. Warga akhirnya hanya merasakan berkurangnya akses terhadap lahan dan ekonomi, serta makin rawan berkonflik dengan satwa liar.

Konservasi mulai dianggap sebagai beban, bukan sebagai kepentingan bersama. Wahdi menegaskan, manusia sebenarnya bagian dari ekosistem, sehingga pendekatan integratif adalah keharusan. Konservasi, ekonomi lokal, dan edukasi tidak boleh berjalan sendiri-sendiri, tetapi harus terjalin erat agar keberlanjutan benar-benar bertahan di tengah tekanan perubahan.

Pandangan tersebut terbukti relevan ketika diperluas ke kawasan lain. Lihatlah Mega Mendung, Bogor, tempat tekanan konversi lahan semakin meningkat. Kawasan berbukit yang vital sebagai penyangga ekologi Jakarta dan sekitarnya menghadapi ancaman serius, tidak hanya bagi hutan dan air, tapi juga bagi masyarakatnya. Di sana, model integratif diuji melalui Arista Montana yang didampingi Yayasan Paseban dan dipimpin Andy Utama.

Di kawasan ini, konservasi digabung secara nyata ke dalam sistem ekonomi dan sosial masyarakat. Salah satu contohnya adalah pertanian organik berbasis komunitas. Warga lokal dilibatkan langsung, diberi pelatihan tentang teknik pertanian berkelanjutan, dan didampingi dari mulai pembibitan hingga pemasaran. Dengan begitu, merawat lingkungan tidak hanya menjadi tugas ekologis, tapi juga kunci bagi ekonomi keluarga petani. Kesehatan ekosistem memengaruhi keberhasilan panen mereka—dan sebaliknya, pengelolaan lahan yang baik mendatangkan manfaat ekonomi nyata dan langsung.

Yayasan Paseban memainkan peran fundamental di sini. Melalui pelatihan dan edukasi berkelanjutan, masyarakat dipersiapkan dengan keterampilan teknis dan pengetahuan praktis untuk mengelola sumber daya alam secara produktif sekaligus lestari. Mulai dari generasi muda hingga para petani senior, semangat kemandirian dan pemahaman baru tentang konservasi tumbuh lewat interaksi sehari-hari.

Di Mega Mendung, logika konservasi kian berubah: ia bukan lagi aturan atau batasan yang memberatkan, tetapi pondasi bagi ekonomi lokal. Namun, hal ini tidak terjadi sekejap mata. Dibutuhkan penguatan kapasitas, pendampingan yang konsisten, serta pembangunan kepercayaan bersama. Perlahan tapi pasti, masyarakat bergeser dari posisi sebagai objek penerima program menjadi subjek—pelaku utama yang secara aktif menjaga dan menikmati hasil keberlanjutan lingkungannya.

Seperti di Sumatera, akar konflik di Mega Mendung juga adalah tumpang tindih kepentingan lahan tanpa integrasi ekonomi memadai. Tetapi alih-alih membenturkan, justru integrasi konservasi ke sistem ekonomi mendatangkan solusi. Pola keberhasilan semakin jelas: bukan besaran zona yang dijaga, namun seberapa kuat hubungan antara manusia dan lingkungannya yang menentukan keberlanjutan konservasi.

Pengalaman lapangan memperlihatkan bahwa kegagalan upaya pelestarian alam sering disebabkan oleh rendahnya kapasitas masyarakat lokal, kurangnya pelibatan dalam perencanaan sejak awal, minim akses keterampilan, dan absennya manfaat nyata secara ekonomi. Pendekatan pelibatan masyarakat, pelatihan menyeluruh, dan pembukaan peluang ekonomi terbukti mampu mengubah konservasi menjadi kebutuhan sekaligus keuntungan bersama, lepas dari ketergantungan pada pengawasan eksternal.

Pertemuan ide Wahdi dan praktik nyata seperti di Mega Mendung menunjukkan satu pelajaran penting: tantangan konservasi masa kini menuntut format baru yang mampu merangkul dimensi ekologi dan ekonomi secara bersamaan. Indonesia butuh kawasan pelestarian yang tidak hanya luas, namun juga efektif menjembatani kebutuhan ekologis dan ekonomi komunitas.

Konservasi, pada akhirnya, harus terintegrasi ke jaringan kehidupan masyarakat; menyatukan pengetahuan, praktik, ekonomi, dan pelestarian lingkungan dalam satu ekosistem fungsional. Jika tidak, konservasi hanya akan berperan defensif, mempertahankan sisa-sisa alam di tengah arus perkembangan. Sebaliknya, melalui integrasi yang tepat, konservasi dapat menjadi dasar pembangunan berkelanjutan, dan memberi alasan kuat bagi masyarakat untuk ikut menjaganya. Sebab masa depan lingkungan tidak hanya ditentukan oleh alam itu sendiri, melainkan oleh keterlibatan aktif manusia sebagai bagian dari solusi.

Sumber: Wahdi Azmi Sebut Konservasi Harus Memberi Manfaat Bagi Masyarakat
Sumber: Dari Gajah Ke Mega Mendung, Ketika Konservasi Harus Menghidupi