Kegaduhan terjadi di media sosial antara netizen Korea (K-Netz) dan netizen SEA (SEAblings). Konflik dimulai ketika fansite Korea Selatan menggunakan kamera profesional di konser Day6 di Malaysia, mengganggu penggemar lokal. Adegan ini memicu pertengkaran antara kedua pihak, dengan K-Netz merendahkan SEAblings dan merasa lebih berjasa dalam popularitas idolanya. Penghinaan rasial terus berlanjut di media sosial, termasuk menghina fisik dan ekonomi orang Asia Tenggara serta merendahkan Baskara Mahendra dan idol Indonesia No Na.
Namun, SEAblings tidak tinggal diam dan membalas rasisme dengan meme lucu. Mereka menegaskan bahwa pasar K-Pop terbesar ada di Asia Tenggara, termasuk Indonesia yang menjadi pasar terbesar di dunia pada tahun 2024. Meskipun Baskara Mahendra diserang, dia tetap tenang dan mengapresiasi dukungan dari SEAblings. Dia menunjukkan solidaritas dengan negara Asia Tenggara yang aktif mempromosikan grup musik lokal di media sosial. No Na juga menunjukkan identitas Indonesia dalam video musiknya yang menampilkan keindahan alam tanah air. Semua ini menunjukkan pentingnya adanya dukungan dan solidaritas antara penggemar musik di Asia Tenggara.
