Kota Makassar terus dihadapkan pada persoalan kejahatan jalanan yang melibatkan geng motor sejak 2012. Fenomena ini tidak hanya mengancam keamanan, namun juga meninggalkan trauma bagi warga. Merespon kondisi tersebut, program Trauma Kota menjadi kolaborasi antara seni, masyarakat, dan pemerintah. Dengan tujuan memulihkan rasa aman warga dan membuka ruang dialog melalui seni, program ini menyelenggarakan berbagai kegiatan mulai dari pameran foto hingga diskusi publik di kecamatan yang terdampak.
Inisiator program, Ahmad Amri Aliyyi, menekankan pentingnya keterlibatan bersama antara warga dan pemerintah dalam menciptakan lingkungan kota yang aman. Selain menyoroti sisi negatif, program ini juga mengangkat peran positif beberapa geng motor dalam membangun solidaritas dan kebersamaan di masyarakat. Melalui proses kreatif yang melibatkan berbagai pihak, program Trauma Kota berhasil menghasilkan berbagai karya seni performans yang mencerminkan berbagai sudut pandang terkait fenomena sosial yang ada.
Dukungan dari Kementerian Kebudayaan, Dana Indonesiana, LPDP, dan Pemerintah Kota Makassar turut mendorong kesuksesan program ini. Melalui Trauma Kota, diharapkan kesadaran bersama dapat tercipta bahwa keamanan kota bukan hanya tanggung jawab aparat, melainkan juga butuh partisipasi aktif dari masyarakat. Pendekatan seni diharapkan mampu membangun empati, memahami trauma, dan merancang masa depan kota yang lebih aman dan inklusif.





