Wusi Tungkau Nansarunai: Mengungkap Jiwa Tak Runtuh di Usak Jawa

by -74 Views







Sendratari “Wusi Tungkau Nansarunai” Menyajikan Kisah Tragis Dayak Ma’anyan

Sendratari “Wusi Tungkau Nansarunai” Menyajikan Kisah Tragis Dayak Ma’anyan

Di bawah temaram lampu panggung UPT Taman Budaya Kalimantan Tengah, pada Jumat (1/5/2026) malam, memoar kolektif bangsa Dayak Ma’anyan dihidupkan kembali melalui pementasan sendratari. Acara ini bertajuk “Wusi Tungkau Nansarunai” dan bukan hanya sekadar gerak tari, melainkan refleksi mendalam tentang kehancuran, hawa nafsu, dan kekuatan untuk bangkit dari puing-puing sejarah.

Kisah Kerajaan Nansarunai yang Runtuh

Kisah ini bermula dari kejayaan Kerajaan purba Suku Dayak Ma’anyan yang merupakan sub suku Dayak tertua di Kalimantan. Kerajaan ini berdiri sejak zaman prasejarah dan bertahan ribuan tahun sebelum akhirnya runtuh. Kerajaan Nansarunai hidup dalam harmoni di bawah kepemimpinan tokoh penting Amah Jarang, namun kedamaian itu terusik oleh “Nansarunai Usak Jawa” yang mengakibatkan kehancuran tragis.

Pesan Filosofis dan Pengendalian Diri

Produser pementasan, Alfirdaus, menekankan bahwa pemicu utama kehancuran Nansarunai adalah hawa nafsu yang tak terkendali. Pesan ini disampaikan melalui pementasan sendratari tersebut yang menggambarkan eksodus besar-besaran Suku Dayak Ma’anyan ke hutan Barito demi menyelamatkan diri.

Ratusan penonton yang memadati tribun UPT Taman Budaya menyaksikan momen memilukan dalam pementasan ini. Meski kerajaannya telah hancur, Jiwa Nansarunai tetap hidup dalam identitas mereka.

Pengingat Penting akan Akar Budaya

Pementasan sendratari ini diharapkan menjadi pengingat bahwa harga diri sebuah bangsa terletak pada kemampuannya untuk menjaga akar budaya di tengah gempuran zaman. Alfirdaus menyerukan kepada generasi muda untuk memahami sejarah secara bertanggung jawab untuk mencegah kehancuran akibat hawa nafsu tak terkendali.

Malam itu, panggung UPT Taman Budaya telah menjadi saksi bahwa luka masa lalu dapat menjadi kekuatan untuk membangun semangat baru bagi masyarakat Dayak Ma’anyan. Kesadaran akan sejarah diharapkan akan menjadi benteng bagi generasi mendatang agar tidak kehilangan identitas mereka.


Source link