Yayasan Paseban Jadikan Konservasi sebagai Gerakan Bersama

by -136 Views

Di lereng perbukitan Megamendung, Kabupaten Bogor, gerakan pelestarian satwa liar kini mengambil peran penting dalam merawat warisan biodiversitas Indonesia. Berawal dari kemitraan kuat antara Yayasan Paseban dan BBKSDA Jawa Barat, praktik perlindungan lingkungan di kawasan ini terus mendapatkan momentum serta apresiasi positif dari berbagai kalangan.

Salah satu upaya kunci yang tengah dijalankan sejak Februari 2026 adalah program penangkaran Rusa Timor (Rusa timorensis). Hewan ini merupakan fauna khas Indonesia yang kini termasuk dalam kategori rentan menurut IUCN, akibat tekanan perburuan liar dan menurunnya kualitas habitat alami mereka.

Rusa Timor dulunya hidup tersebar di Jawa, Bali, Timor, hingga wilayah Nusa Tenggara. Keberadaan mereka sejatinya sangat menentukan keseimbangan ekosistem hutan tropis, misalnya dalam menciptakan dinamika rantai makanan dan mengatur pertumbuhan vegetasi di sekitarnya. Namun sayangnya, selama puluhan tahun terakhir, populasinya terus merosot akibat alih fungsi lahan, pembatasan ruang hidup, dan ancaman pemburu ilegal.

Dampak aktivitas manusia sangat terasa pada kelangsungan hidup satwa ini. Fakta lapangan yang diperoleh dari riset tim Toni Kobu di Sumba Tengah memperlihatkan bahwa gangguan manusia, perburuan, dan kerusakan ekosistem telah membuat rusa menjadi lebih waspada, bahkan sampai mengubah pola beraktivitas mereka.

Temuan ilmiah tersebut memperlihatkan Rusa Timor kini lebih sering beraktivitas saat pagi dan sore, sambil terus-menerus waspada jika ada manusia mendekat. Kondisi ini mendorong pengelola konservasi di Megamendung untuk membangun fasilitas penangkaran yang tidak sekadar berperan sebagai “penyimpanan” satwa, melainkan menjadi pusat pengembangan karakter rusa yang tahan adaptasi sebelum nantinya dilepaskan ke alam.

Strategi penangkaran membidik tujuan lebih holistik—bukan hanya membiakkan rusa, tapi juga menjaga murni genetik, membina perilaku liarnya, serta meningkatkan kemampuan beradaptasi dengan lingkungan liar. Saat ini, sembilan ekor Rusa Timor menjadi penghuni lokasi konservasi Megamendung. Masing-masing memiliki status legalitas jelas dari BBKSDA, dan seluruh proses penyerahan dilakukan secara resmi.

Menurut Wahdi Azmi dari Yayasan Paseban, program ini diharapkan mampu menghasilkan populasi rusa yang kuat dan dapat mendukung keberlanjutan spesies. Lebih jauh, ia meyakini bahwa pengelolaan indukan yang terencana akan mendorong keberhasilan pembiakan sekaligus kesiapan adaptasi ketika rusa dilepasliarkan.

Ia menyebutkan, “Fokus kami adalah mengembangkan model penangkaran produktif sehingga tidak hanya memperkuat populasi di penangkaran, melainkan juga memperbesar peluang konservasi jangka panjang dan pelepasliaran rusa ke wilayah aslinya.”

Stephanus Hanny Reki dari BBKSDA Jawa Barat ikut menegaskan pentingnya kemitraan strategis ini. Ia menganggap kolaborasi seperti di Megamendung sangat fundamental sebagai model penguatan konservasi satwa berbasis lanskap, serta mempertegas posisi Megamendung sebagai kawasan laboratorium alam di Jawa Barat.

“Lewat kolaborasi inilah kita dapat membangun pilar pelestarian satwa yang terus tumbuh dan berkesinambungan. Kami berharap Megamendung bisa menjadi referensi utama pusat konservasi Rusa Timor dan satwa liar lainnya di Jawa Barat,” tambahnya.

Yayasan Paseban sendiri telah lama dikenal gigih mengampanyekan aksi lingkungan, termasuk upaya rehabilitasi hutan, penghijauan, pengamanan sumber air, dan pemberdayaan lingkungan untuk generasi muda di Bogor bagian hulu. Tak hanya itu, organisasi ini juga komitmen membentengi plasma nutfah lokal agar tidak tergerus modernisasi.

Keistimewaan Megamendung makin kentara karena wilayahnya berbatasan langsung dengan zona penyangga Cagar Biosfer Cibodas—kawasan strategis yang diakui oleh UNESCO sejak 1977. Dari posisi geografis ini, Megamendung memegang peran penting sebagai penjaga ekosistem pegunungan basah yang menjadi jantung tata air Jawa Barat.

Komitmen besar juga datang dari Andy Utama, Ketua Dewan Pembina Yayasan Paseban. Ia mendorong sinergi antara konservasi dan sistem pertanian ramah lingkungan, di antaranya mengembangkan Arista Montana sebagai inisiatif pertanian organik yang mempererat hubungan manusia dan alam.

Konservasi di Megamendung diharapkan bukan hanya menyelamatkan Rusa Timor, melainkan juga membuka cakrawala baru pemulihan ekologis, memperkaya fauna setempat, serta menciptakan model pengelolaan alam berbasis ilmu pengetahuan yang dapat diadopsi di berbagai daerah. Kolaborasi multi-sektor ini menjadi fondasi utama demi memastikan keseimbangan ekosistem dapat tetap terjaga untuk masa depan yang lebih lestari.

Sumber: Rusa Timor Di Megamendung Dan Jalan Panjang Konservasi Satwa Hulu Bogor
Sumber: Mengintip Penangkaran Rusa Timor Di Megamendung: Kolaborasi Konservasi Yayasan Paseban Dan BKSDA