Ketum Muhammadiyah Tegaskan Sulitnya Menghentikan Perang
Pada hari Selasa, 19 Mei 2026, Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengungkapkan bahwa upaya perdamaian global seringkali terbuntu karena negara-negara berpengaruh cenderung terlibat dalam konflik tersebut. Situasi ini menunjukkan kehilangan nilai kemanusiaan dalam era modern.
Perjuangan Menjaga Perdamaian di Tengah Konflik
Haedar menyampaikan pandangannya bahwa dunia sedang menghadapi tantangan besar di mana beberapa negara adidaya memilih jalur konflik atau perang sebagai solusi. Hal ini menandakan bahwa falsafah hidup yang berpihak pada kemanusiaan mulai memudar.
“Setelah Perang Dunia I dan II, seharusnya kita telah belajar dari sejarah untuk tidak mengulangi kesalahan masa lalu,” ujar Haedar Nashir.
PBB Sebagai Harapan Perdamaian Dunia
Menurut Haedar, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) seharusnya memimpin upaya perdamaian tanpa melibatkan peperangan yang hanya akan membawa kerugian global. Namun, ia sadar bahwa mewujudkan perdamaian tersebut tidaklah mudah, terutama ketika negara-negara kuat masih memiliki kendali dalam PBB dan memiliki hak veto.
Haedar mengomentari bahwa kekerasan, termasuk penculikan jurnalis Indonesia oleh tentara Israel dalam misi kemanusiaan, adalah bentuk tindakan yang merugikan semua pihak. Ia menegaskan bahwa politik kekerasan hanya akan menimbulkan konflik yang lebih besar.
“Kita harus mengecam tindakan kekerasan dan intervensi yang tidak berbasis kemanusiaan,” tandas Haedar Nashir.
Di tengah situasi yang sulit, Haedar berharap agar semua negara di dunia terus mendorong untuk menghentikan perang dan mempromosikan perdamaian sebagai jalan keluar yang lebih baik.





