Kasus Tuberculosis di Maros Masih Tinggi Menjelang Pertengahan 2026
Dinas Kesehatan (Dinkes) Maros mencatat bahwa kasus Tuberculosis (TBC) di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan masih berada pada tingkat yang cukup tinggi. Hingga pertengahan tahun 2025, terdapat 995 kasus TBC yang teridentifikasi. Dari jumlah tersebut, sekitar 83,17 persen pasien berhasil sembuh setelah menjalani pengobatan, namun angka kematian akibat penyakit tersebut mencapai sekitar 9 persen.
Kasus Positif TBC di Awal Tahun 2026
Menjelang pertengahan 2026, Dinkes Maros kembali melaporkan penemuan 307 kasus positif TBC dari bulan Januari hingga April. Namun, angka tersebut masih jauh dari target yang ditetapkan Kementerian Kesehatan sebesar 1.699 kasus positif TBC.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Maros, Hasan Rahim, menyatakan bahwa target penemuan kasus ini berdasarkan jumlah populasi dan kelompok suspek berisiko tinggi tertular TBC, seperti kontak erat pasien dan warga dengan gejala batuk berkepanjangan.
Hasan juga mengungkapkan bahwa daerah perkotaan seperti Kecamatan Turikale dan Mandai menjadi wilayah dengan kasus TBC terbanyak di Maros. Faktor-faktor seperti permukiman padat penduduk menjadi penyebab utama tingginya penularan penyakit ini.
Pentingnya Pengobatan Tuntas
Menekankan pentingnya pengobatan, Hasan mengingatkan pasien TBC untuk disiplin menjalani pengobatan penuh selama enam bulan. Banyak pasien yang menghentikan konsumsi obat setelah merasa sembuh, yang dapat menyebabkan TBC menjadi resisten terhadap obat atau Multi Drug Resistant (MDR).
Untuk mengatasi masalah ini, Dinkes Maros terus memperkuat penemuan kasus aktif melalui skrining serta melibatkan kader kesehatan di desa dan kelurahan. Sebanyak 103 desa dan kelurahan di Maros telah ditetapkan sebagai desa siaga TBC.
Bupati Maros, Chaidir Syam, juga mengimbau masyarakat untuk segera memeriksakan diri jika mengalami gejala batuk yang berkepanjangan. Penanganan yang cepat dan pengobatan yang tuntas dapat membantu dalam penyembuhan TBC sejak dini.





