Busana Mahasiswa UC Surabaya: Skizofrenia dan Pemberdayaan UMKM

by -201 Views

Fashion show mahasiswa kerap dipandang sebagai ajang unjuk gaya. Namun, dalam Fashionology 2026 yang digelar Program Studi Fashion Product Design and Business, Fakultas Industri Kreatif Universitas Ciputra (UC) Surabaya, panggung justru dipakai untuk membicarakan hal yang lebih luas: kesehatan mental, identitas budaya, hingga peran UMKM lokal. Di sini, busana tidak berhenti sebagai tontonan, tetapi menjadi medium untuk menyampaikan gagasan yang dekat dengan realitas sosial.

Fashionology 2026 dan Cara Baru Membaca Busana

Acara ini memperlihatkan bahwa fashion bisa bekerja sebagai bahasa visual yang tajam. Setiap koleksi yang tampil membawa narasi yang berbeda, namun tetap berangkat dari keresahan dan pengamatan terhadap lingkungan sekitar. Melalui pendekatan itu, mahasiswa UC Surabaya tidak hanya ditantang merancang pakaian yang menarik secara estetika, tetapi juga menyusun cerita yang memiliki bobot pesan.

“Interior” Karya Jocelin Clementine Sorot Skizofrenia Paranoid

Salah satu koleksi yang paling kuat datang dari Jocelin Clementine, mahasiswa semester delapan, lewat karya streetwear konseptual berjudul “Interior”. Koleksi ini mengangkat kompleksitas psikologis penderita Skizofrenia Paranoid, tema yang jarang disentuh karena kerap dianggap sensitif. Jocelin tidak memilih pendekatan yang dangkal. Ia justru mendalami isu tersebut dengan berbicara langsung kepada para penyintas sebelum menerjemahkannya ke dalam rancangan busana.

Pilihan material denim dan katun memberi kesan personal sekaligus kelam. Sementara itu, siluet oversized, konstruksi asimetris, motif mata, potongan robek, tali merah, dan elemen rantai memperkuat kesan batin yang terpecah, tertekan, dan penuh lapisan emosi. Koleksi ini menunjukkan bagaimana busana dapat menjadi sarana untuk mengungkap pengalaman manusia yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Streetwear, Batik Mojokerto, dan Dukungan untuk UMKM

Di sisi lain, Muhammad Atho’illah membawa energi berbeda lewat inspirasi dari Budaya Skena Hip Hop Lokal. Karyanya memadukan karakter streetwear dengan pemanfaatan limbah kain batik lokal asal Mojokerto. Dalam prosesnya, ia berkolaborasi dengan Omah Batik Pina Pinu, sebuah langkah yang bukan hanya memberi nilai tambah pada desain, tetapi juga membuka ruang bagi produk UMKM untuk hadir dalam format yang lebih segar dan relevan bagi anak muda.

Ketua Program Studi Yoanita Kartika Sari Tahalele menegaskan bahwa karya mahasiswa dalam Fashionology 2026 tidak semata-mata soal pencapaian visual. Menurutnya, rancangan yang lahir dari ajang ini mencerminkan inovasi dan kreativitas mahasiswa dalam merespons problematika masyarakat secara lebih menyeluruh. Di saat yang sama, kegiatan ini juga menjadi jembatan menuju dunia industri fashion, sekaligus memberi peluang yang lebih luas bagi pertumbuhan ekonomi UMKM lokal.