Andy Utama Ingin Habitat Satwa Semakin Terlindungi

by -131 Views

Upaya pelestarian keanekaragaman hayati semakin mendapat perhatian di Lanskap Megamendung, Kabupaten Bogor, dengan dilaksanakannya pelepasliaran dua ekor Elang Jawa (Nisaetus bartelsi) pada hari Selasa (9/6/2026). Selain itu, Kementerian Kehutanan secara resmi membuka Lembah Aviary Paseban dan Penangkaran Rusa Timor sebagai bentuk penguatan langkah konservasi dan pemulihan ekosistem di kawasan tersebut, yang menjadi salah satu area krusial di Pulau Jawa.

Dalam acara tersebut, Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Satyawan Pudyatmoko, yang mewakili Menteri Kehutanan, menegaskan pentingnya sinergi dalam menjaga kelestarian alam. Ia menyampaikan bahwa keberhasilan pelestarian lingkungan tidak dapat dicapai tanpa kerja sama seluruh pihak, mulai dari aparat pemerintah, akademisi, pelaku usaha hingga masyarakat lokal. Satyawan menambahkan, “Langkah bersama seperti yang kami lakukan di Megamendung, membuktikan bahwa pembangunan, pemulihan ekosistem, dan konservasi keanekaragaman hayati dapat saling melengkapi.”

Dua elang yang dilepasliarkan adalah Agni, betina hasil rehabilitasi dari Pusat Konservasi Elang Kamojang, dan Beta, elang jantan rehabilitasi dari Yayasan Konservasi Cikananga. Selama dua tahun enam bulan, keduanya telah menjalani proses evaluasi kesehatan dan adaptasi sebelum akhirnya dilepas ke alam bebas. Proses pelepasliaran ini turut didukung pemasangan GPS tracker pada masing-masing burung untuk memastikan pemantauan gerak serta proses adaptasi mereka setelah kembali ke habitat alami.

Elang Jawa merupakan burung endemik khas Pulau Jawa, berstatus dilindungi dan menjadi salah satu prioritas utama konservasi nasional. Satwa ini kerap dijadikan indikator utama kesehatan hutan pegunungan, sehingga keberadaannya menjadi penanda penting kondisi ekosistem kawasan tersebut.

Peresmian Lembah Aviary Paseban sebagai fasilitas konservasi nonkomersial diharapkan dapat berperan besar dalam pelestarian berbagai jenis burung Indonesia. Fasilitas ini juga menyediakan ruang bagi penelitian, pendidikan lingkungan, serta pengembangbiakan satwa dan pemberian edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya pelestarian satwa liar melalui program pelepasliaran.

Selain fasilitas aviary, Penangkaran Rusa Timor yang juga diresmikan menjadi sarana pembelajaran dan konservasi yang bertujuan meningkatkan populasinya di alam. Diharapkan kedua fasilitas ini mampu mendukung pertumbuhan jumlah satwa liar dan menjaga keseimbangan ekologi di kawasan Megamendung.

Yayasan Paseban, sebagai penggagas konservasi di Megamendung, telah merancang kegiatan yang menggabungkan aspek rehabilitasi satwa, perbaikan ekosistem, pertanian ramah lingkungan, pemberdayaan masyarakat, pendidikan, hingga riset ilmiah. Dengan berbagai program tersebut, Megamendung berupaya memperkuat perannya sebagai kawasan penyangga sekaligus habitat penting bagi satwa liar dan sumber air bagi masyarakat sekitarnya.

Andy Utama, Pembina Yayasan Paseban, mengungkapkan bahwa misi utama mereka adalah mengembalikan fungsi ekologis Megamendung sedekat mungkin dengan masa kejayaannya sekitar satu abad yang lalu. Menurutnya, walau masa lalu tidak dapat dikembalikan secara penuh, berbagai upaya yang dilakukan diharapkan dapat melestarikan habitat, memperkuat populasi satwa liar, menjaga ketersediaan air, serta mewariskan lingkungan yang sehat kepada generasi mendatang.

Wiratno, penasihat Yayasan Paseban, menekankan Megamendung sebagai penghubung ekologis penting di Jawa Barat, terutama mengingat lokasinya yang dekat dengan Cagar Biosfer Cibodas. Ia menyebutkan, “Kawasan ini bukan sekadar habitat fauna, tetapi juga menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas lingkungan bagi wilayah di hilir.”

Zona Megamendung sendiri hingga kini masih menjadi rumah bagi berbagai satwa endemik dan langka, seperti Owa Jawa, Surili Jawa, Lutung Jawa, Landak Jawa, Trenggiling Sunda, dan banyak jenis burung hutan lainnya. Keberadaan spesies-spesies tersebut merupakan penunjuk nilai ekologis kawasan, meski tekanan pembangunan di Pulau Jawa terus meningkat setiap tahunnya. Dengan terus mengembangkan upaya konservasi dan edukasi, diharapkan Megamendung semakin kuat sebagai kawasan penyangga lingkungan sekaligus sumber keanekaragaman hayati yang berkelanjutan.

Sumber: Paseban Foundation Perkuat Megamendung Sebagai Benteng Konservasi Satwa Liar
Sumber: Kemenhut Lepasliarkan Dua Elang Jawa Dan Resmikan Fasilitas Konservasi Di Megamendung