Codeisme: Merangkai Seni dan Teknologi Dalam Satu Karya
Sejak manusia pertama kali meninggalkan jejak gambar di dinding gua puluhan ribu tahun lalu, seni telah menjadi lebih dari sekadar medium estetika. Setiap goresan memiliki tujuan yang lebih dalam, mulai dari menyimpan pengetahuan, merekam pengalaman, hingga mewariskan makna dari satu generasi ke generasi berikutnya. Di era kecerdasan buatan (AI) seperti sekarang, fungsi tersebut mengalami perkembangan baru melalui Codeisme, suatu gerakan seni yang memadukan ekspresi artistik dengan teknologi digital.
Codeisme merupakan karya seniman Indonesia, Doddy “Mr D” Hernanto, yang menggabungkan lukisan manual dengan QR code fungsional. Di setiap karyanya, ketelitian dalam melukis sangat penting karena kesalahan sedikit saja dalam sapuan kuas dapat membuat kode digital menjadi tidak dapat dipindai. Dalam Codeisme, aspek artistik dan fungsional harus berjalan seiring dan sejalan.
Dua Revolusi Informasi dalam Sejarah Seni
Dalam sejarah, perjalanan manusia dalam menyimpan dan menyampaikan informasi telah mengalami setidaknya dua revolusi besar. Revolusi pertama terjadi ketika manusia mulai menciptakan gambar sebagai media penyimpanan pengetahuan. Temuan tertua yang ditemukan di Gua Blombos, Afrika Selatan, sekitar 73 ribu tahun lalu, berupa pola abstrak yang digoreskan menggunakan oker pada batu.
Di Indonesia, terdapat penelitian yang menunjukkan bahwa lukisan figur manusia yang berinteraksi dengan babi hutan di Leang Karampuang, Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan berusia minimal 51.200 tahun. Temuan ini memberikan gambaran tentang seni naratif tertua yang diketahui hingga saat ini. Lukisan-lukisan tersebut bukanlah sekadar dekorasi, namun merupakan teknologi informasi pertama yang memungkinkan pengalaman, pengetahuan, dan cerita tertentu tetap bertahan dalam suatu komunitas.
Dari Teori Informasi hingga QR Code
Revolusi informasi kedua hadir pada abad ke-20 seiring perkembangan ilmu komunikasi dan komputasi. Claude Shannon dari Bell Labs menerbitkan A Mathematical Theory of Communication pada 1948, yang menjadi dasar dari teori informasi modern. Shannon menjelaskan bagaimana berbagai jenis informasi, termasuk teks, suara, dan gambar, dapat diubah menjadi data, dikompresi, lalu dikirim secara efisien melalui sistem komunikasi.
Berkembang dari konsep tersebut, QR code diciptakan oleh Masahiro Hara pada tahun 1994 untuk kebutuhan industri otomotif di Jepang. Pola dua dimensi hitam putih membawa inovasi dalam penyimpanan data dalam jumlah besar sekaligus kemampuan pemindaiannya yang cepat dari berbagai sudut.
Codeisme memadukan dua tradisi tersebut dalam satu karya, dengan menghadirkan karakter artistik di permukaan lukisan dan QR code sebagai kernel yang tetap berfungsi secara digital. Dalam pendekatan ini, teknologi tidak menyusutkan nilai artistik dari karya seni, begitupun sebaliknya.
Potret Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, merupakan salah satu contoh bagaimana Codeisme menyatukan sejarah, identitas, dan data dalam satu medium visual.
Menuju Era AI: Membuka Dialog Baru Antar Manusia, Seni, dan Teknologi
Codeisme juga membuka kemungkinan baru di era kecerdasan buatan. Dengan AI, QR code dalam karya seni tidak lagi hanya berfungsi sebagai pemindai menuju informasi statis, namun dapat menjadi pengalaman interaktif yang dinamis dan terus berkembang sesuai konteks.
Codeisme menjadi bukti bahwa seni, informasi, dan teknologi dapat bersatu dalam satu wadah untuk menciptakan dialog baru antara manusia, sejarah, dan masa depan.


