Bahaya Abu Vulkanik: Alasan Penerbangan Ditutup

by -74 Views

Jakarta (ANTARA) – Sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau kembali mengganggu penerbangan di beberapa wilayah Indonesia. Dampaknya tidak hanya terbatas pada jarak pandang, tetapi juga meningkatkan risiko kerusakan pada mesin dan komponen pesawat.

Sebaran Abu Vulkanik dan Dampaknya

Pada awal September 2026, Gunung Anak Krakatau kembali meletus, menyebabkan abu vulkanik menyebar ke sejumlah wilayah di Jawa dan Sumatra, termasuk Jakarta. Situasi ini memaksa sejumlah bandara untuk sementara menutup operasional penerbangan guna menjaga keselamatan.

Pada tanggal 6 September 2026, diperkirakan awan abu vulkanik mencapai ketinggian sekitar 50.000 kaki di Sumatra. Lebih dari 1.500 penerbangan dan sekitar 170.000 penumpang terdampak akibat situasi ini di berbagai bandara.

Bahaya Abu Vulkanik bagi Pesawat

Abu vulkanik terdiri dari pecahan batuan, mineral, dan material vulkanik yang sangat kecil. Partikel-partikel ini bersifat abrasif dan dapat diangkut oleh angin ke jarak yang jauh dari sumber letusan.

Menurut United States Geological Survey (USGS), abu vulkanik bisa menjadi ancaman serius bagi penerbangan meskipun pesawat berada jauh dari gunung api itu sendiri. Awan abu dengan konsentrasi tinggi dapat menyebabkan penurunan jarak pandang, merusak sistem pesawat, dan bahkan mengganggu kinerja mesin jet.

Selain mengurangi jarak pandang, abu vulkanik juga dapat merusak atau mengganggu mesin pesawat. Partikel-partikel tersebut dapat masuk ke dalam mesin, meleleh akibat suhu tinggi, dan mengakibatkan kerusakan pada komponen pesawat.

Keselamatan sebagai Prioritas Utama

Keputusan untuk menutup bandara atau mengalihkan penerbangan dilakukan demi keselamatan penumpang dan awak pesawat. Meskipun hal ini dapat menimbulkan ketidaknyamanan bagi penumpang, langkah ini meminimalkan risiko kerusakan serius pada pesawat.

Jadi, abu vulkanik bukan hanya masalah jarak pandang, tetapi juga dapat merusak mesin dan komponen pesawat. Pengambilan keputusan yang tepat dan pemantauan yang cermat menjadi kunci agar penerbangan tetap aman di tengah ancaman abu vulkanik.

Source link