TNI dan Ketahanan Infrastruktur di Tengah Perubahan Bentuk Peperangan

by -130 Views

Dinamika global saat ini menunjukkan bahwa ketergantungan pada arus finansial, informasi, dan barang lintas negara membawa potensi risiko baru bagi suatu negara. Peristiwa konflik seperti Perang Ukraina dan Perang Iran menjadi bukti nyata bagaimana risiko-risiko ini terealisasi. Konflik yang terjadi di satu wilayah ternyata dapat memberikan dampak yang menyebar secara global, bahkan pada perang dengan skala terbatas. Salah satu pelajaran penting dari Perang Ukraina adalah munculnya gangguan terhadap distribusi pangan, sementara Perang Iran memberikan gambaran mengenai terganggunya pasokan energi dunia. Kedua peristiwa ini sama-sama menunjukan bahwa ancaman perang tidak hanya menyangkut pengurangan produksi, tetapi juga disrupsi arus distribusi yang vital.

Dalam kasus Perang Iran, gangguan terhadap pelayaran di Selat Hormuz tidak menuntut penutupan total. Tindakan berupa serangan terbatas atau sekadar ancaman melalui ranjau dan rudal sudah cukup meningkatkan risiko dan menyebabkan premi asuransi melambung, sehingga perusahaan pelayaran memilih menunda pengiriman. Keputusan ekonomi seperti ini menghadirkan dampak strategis yang signifikan. Akibatnya, aliran minyak di Selat Hormuz sempat turun drastis dari sekitar 20 juta menjadi sekitar 2,7 juta barel per hari. International Energy Agency mencatat kejadian ini sebagai gangguan terbesar dalam pasar minyak dunia. Iran tidak perlu menghancurkan seluruh kapal, cukup menciptakan ancaman yang membuat perjalanan menjadi sangat berbahaya.

Hal yang serupa juga tercermin di Perang Ukraina, di mana sebelum konflik bermula, lebih dari 90 persen ekspor pertanian Ukraina dikirim melalui pelabuhan Laut Hitam. Ketika jalur itu terganggu, pengalihan ke jalur darat maupun sungai hanya mampu menutupi sebagian kapasitas. Kondisi ini mengganggu tidak hanya proses distribusi, melainkan juga produksi pangan di berbagai negara, sebab Rusia dan Belarus sebagai pemasok utama bahan baku pupuk dunia juga terdampak. Imbasnya, negara-negara lain yang menggantungkan diri pada pasokan tersebut turut merasakan ketidakpastian.

Dari sini, tampak nyata bahwa luasnya jaringan ekonomi global tidak dapat sepenuhnya menghilangkan titik konsentrasi yang berisiko. Apabila satu simpul penting rusak, efek dominonya bisa terasa hingga keluar wilayah perang itu sendiri. Farrell dan Newman menyebut kemampuan mengendalikan akses ke simpul vital seperti ini sebagai “chokepoint effect”. Konsep ini tidak hanya berlaku pada jalur logistik fisik seperti selat dan pelabuhan, tetapi juga pada sistem keuangan, teknologi, perangkat lunak, bahkan intellectual property. Semua jaringan ini punya titik rapuh yang apabila terganggu, aktivitas ekonomi global bisa lumpuh dalam sekejap. Fishman mencontohkan bahwa instrumen ekonomi seperti sanksi, asuransi, dan pengendalian akses teknologi telah menjadi bagian dari strategi perang modern. Dampaknya, negara atau ekonomi yang menjadi sasaran tidak lagi dapat berjalan secara normal.

Transformasi cara perang berlangsung tidak mengubah makna dasar peperangan sebagai alat pencapaian tujuan politik, mengikuti pemikiran Clausewitz. Namun, skema perang kini makin melebar, tidak lagi terbatas pada aksi militer di medan tempur, tetapi juga merambah ranah ekonomi dan rantai pasokan global. Dampak dari gangguan pasokan pangan melalui Laut Hitam dirasakan di negara-negara yang bergantung pada gandum dan pupuk Ukraina. Sebaliknya, gangguan pelayaran di Selat Hormuz mengerek risiko dan harga energi hingga negara seperti Indonesia. Ini berarti, negara yang sama sekali tidak terlibat perang pun bisa turut terkena getahnya.

Indonesia sendiri perlu melakukan perhitungan militer yang mempertimbangkan dua skenario. Pertama, jika Indonesia menjadi target perang, lawan mungkin akan mengincar pelabuhan, jalur tenaga, distribusi energi, infrastruktur komunikasi, atau pusat data sebagai upaya melemahkan pertahanan nasional. Kedua, fungsi-fungsi strategis itu juga dapat terkena dampak perang di lokasi lain meskipun Indonesia tidak terkait langsung dengan konflik. Kasus Ukraina dan Iran menegaskan skenario kedua sangat mungkin terjadi, sebab gangguan pangan dan energi dari sana bisa menjalar ke sini.

Pasukan militer Indonesia sangat tergantung pada rantai pasok bahan bakar, pangan, transportasi logistik, juga teknologi dan komunikasi. Jika jalur global itu terganggu akibat perang di luar negeri, kesiapan operasi dan daya tahan nasional bisa ikut goyah. Akibatnya, perencanaan pertahanan tidak cukup hanya menghitung kekuatan musuh atau ancaman serangan langsung, melainkan juga harus melihat apakah fungsi-fungsi vital yang menopang ketahanan tetap berjalan saat rantai pasok internasional terputus. Ini bukan berarti militer harus mengambil alih semua sektor strategis secara langsung, melainkan perlu ada perubahan pola pikir: dari kalkulasi sektoral menuju kalkulasi fungsional.

Identifikasi simpul kritis merupakan langkah strategis. Perencanaan harus mencakup apa saja yang harus selalu tersedia, apa yang tidak boleh terhenti, saluran mana yang harus tetap terhubung, dan sistem apa yang harus segera dipulihkan ketika terjadi gangguan. Adaptasi diarahkan pada bagaimana melindungi simpul vital, membangun kapasitas cadangan atau alternatif, serta menyusun strategi pemulihan. Swasembada pun tidak memberikan jaminan ketahanan apabila masih ada ketergantungan pada input dari luar atau distribusi yang terpusat pada satu jalur utama. Sebaliknya, ketergantungan dapat tetap terkendali apabila negara memiliki cadangan, alternatif, dan sistem yang redundan.

Sebagai negara kepulauan dengan ekonomi dan pertahanan nasional yang sangat bergantung pada keterhubungan, Indonesia menghadapi kerentanan pada banyak titik, mulai dari selat, pelabuhan, terminal energi, pabrik, gudang, kabel bawah laut, hingga pusat data dan sistem pembayaran. Pelajaran utama dari Ukraina dan Iran bukan tentang perlunya melepaskan diri dari interdependensi global, tetapi tentang menyadari bahwa dalam perang, simpul ketergantungan bisa sewaktu-waktu berubah menjadi kerentanan. Maka, Indonesia harus siap tidak hanya menghadapi potensi serangan langsung, namun juga skenario di mana fungsi vital terganggu, simpul krusial gagal, dan ketahanan nasional dipertaruhkan. Kini, lebih dari sebelumnya, persiapan terhadap ketahanan dan konektivitas menjadi kunci bagi masa depan bangsa.

Sumber: Perang Terbatas, Dampak Global: Broto Wardoyo Soroti Ketahanan Pertahanan Indonesia
Sumber: Menakar Dampak Tak Terbatas Dari Perang Terbatas