Mohon Maaf Jika Ada yang Tersinggung

by -570 Views

Bali – Senator DPD RI Bali Arya Wedakarna akhirnya buka suara dan menyampaikan permohonan maaf terkait pernyataannya yang menuai sorotan publik. Ia menegaskan tidak bermaksud menyinggung kelompok tertentu, meski potongan video ucapannya sempat memicu reaksi keras di media sosial.

Klarifikasi Arya Wedakarna

Dalam klarifikasi yang diunggah melalui akun Facebook @Dr. Arya Wedakarna pada Selasa, 2 Januari 2024, Arya menyampaikan permintaan maaf secara terbuka. “Jika ada kelompok lain merasa tersinggung dan keberatan, saya memohon maaf dengan tulus,” ujarnya.

Senator DPD RI Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS menjelaskan, pernyataannya muncul dalam konteks rapat resmi DPD RI B65 pada masa reses, yang digelar pada 29 Desember 2023. Menurut dia, rekaman yang beredar diambil secara potongan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab sehingga memunculkan tafsir berbeda dari konteks pembicaraan aslinya.

Soal aspirasi putra-putri Bali

Arya menegaskan, rapat tersebut membahas aspirasi konstituennya agar putra-putri daerah Bali diprioritaskan menjadi front liner Bea Cukai di Bandara Ngurah Rai. Ia menyebut gagasan itu sejalan dengan semangat aturan daerah yang berkaitan dengan pariwisata Bali.

“Kepatuhan instansi apapun di Bali pada Perda Bali No 2/2012 Tentang Pariwisata Bali yang tegas dijiwai dan bernafaskan budaya Hindu dan diperkuat UU Provinsi Bali No. 15/2023,” tegasnya.

Video yang terlanjur viral

Sebelumnya, video Arya Wedakarna viral dan dianggap bernada rasis terkait hijab. Dalam potongan video itu, ia terdengar berkata, “Saya gak mau yang front line, front line itu, saya mau yang gadis Bali kayak kamu, rambutnya kelihatan terbuka. Jangan kasih yang penutup, penutup gak jelas, this is not Middle East. Enak aja Bali, pakai bunga kek, pake apa kek,” ucap Arya.

Pernyataan tersebut memantik perdebatan luas karena dinilai menyinggung identitas dan pilihan busana kelompok tertentu. Di tengah sorotan itu, klarifikasi dan permintaan maaf Arya menjadi langkah yang ia tempuh untuk meredam polemik yang sudah telanjur meluas.