Dampak Perang As-Iran: Emas dan Minyak Turun

by -411 Views

Pasar keuangan global memulai pekan dengan nada waspada setelah meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran memicu kekhawatiran baru di lantai bursa. Sorotan utama investor kini tertuju pada energi, emas, dan aset aman lainnya, seiring kemungkinan gangguan pasokan minyak yang bisa mengguncang harga dalam waktu singkat.

Selat Hormuz Jadi Titik Paling Sensitif

Florian Weidinger, Chief Investment Officer Santa Lucia Asset Management, menilai dampak konflik ini bisa lebih besar daripada situasi di Venezuela. Menurut dia, jika terjadi gangguan produksi minyak di Venezuela, harga minyak bisa melonjak tajam dalam waktu singkat. Namun, Iran memegang peran yang jauh lebih strategis karena menjadi pusat distribusi minyak dunia melalui Selat Hormuz.

Berdasarkan data Kpler, sekitar 13 juta barel minyak mentah melewati selat tersebut setiap hari, setara dengan 31% pasokan global. Itu sebabnya, setiap sinyal gangguan di kawasan ini langsung dibaca pasar sebagai ancaman terhadap rantai pasok energi dunia. Kenneth Goh dari UOB Kay Hian Singapura turut menyoroti dua sumber risiko sekaligus, yakni produksi di Venezuela dan hambatan distribusi di Iran.

Investor Beralih ke Emas dan Dolar AS

Ketegangan ekstrem ini menguat setelah serangan Israel terhadap situs nuklir Iran, yang kembali menghidupkan memori kolektif pasar atas episode geopolitik sebelumnya. Dalam situasi seperti ini, investor cenderung mencari perlindungan dengan masuk ke emas dan Dolar AS, dua aset yang selama ini dianggap lebih aman saat ketidakpastian meningkat.

Alicia GarcĂ­a-Herrero dari Natixis menyebut hari Senin sebagai hari yang menegangkan bagi bursa saham global. Ia memperkirakan ekuitas global bisa turun 1% hingga 2%, sementara harga minyak berpotensi naik 5% hingga 10%. Di saat yang sama, imbal hasil surat utang AS diperkirakan turun 5 hingga 10 basis poin karena permintaan terhadap aset aman meningkat.

Pasar Menunggu Langkah Teheran

Alicia juga mengingatkan pasar agar tidak terburu-buru mengambil posisi agresif sebelum melihat respons Iran. Bagi pelaku pasar, pertanyaan paling penting saat ini bukan hanya seberapa besar eskalasi yang terjadi, tetapi apakah Selat Hormuz tetap terbuka. Selama jalur itu aman, tekanan ke pasar energi masih bisa dikelola. Namun jika stabilitasnya goyah, gejolak yang dipicu Iran bisa berubah menjadi krisis yang jauh lebih luas.

Source link