Aksi perampasan perhiasan terhadap anak-anak di kawasan Tegal Alur, Kalideres, Jakarta Barat, disebut warga telah terjadi berulang kali. Namun, insiden yang menimpa dua anak perempuan kakak beradik pada Rabu (30/9) menjadi kasus paling serius karena korban tidak hanya kehilangan perhiasan, tetapi juga dibawa pergi oleh pelaku.
Juli (45), warga yang kedua anaknya menjadi korban, mengatakan pelaku dalam beberapa kejadian sebelumnya menyasar anting anak-anak. Menurut dia, pelaku diduga merupakan perempuan dewasa yang beraksi di sekitar lingkungan permukiman.
Anting anak ditarik hingga terluka
Beberapa bulan sebelum kejadian yang menimpa anaknya, seorang teman les lukis anak Juli juga mengalami perampasan anting di dekat RPTRA Alur Flamboyan. Dalam peristiwa itu, anting korban ditarik secara paksa hingga menyebabkan telinganya berdarah.
“Kalau penculikan sampai dibawa lari sebelumnya belum pernah ya. Tapi kalau perampasan anting anak kecil, beberapa bulan lalu ada teman les lukis anak saya dirampas antingnya di dekat RPTRA Alur Flamboyan. Pelakunya ibu-ibu juga, antingnya langsung ditarik sampai kuping anaknya berdarah,” kata Juli saat ditemui di Jakarta, Jumat.
Kasus serupa juga pernah dialami anak tetangga Juli sekitar satu tahun lalu. Saat itu, korban sedang bermain di depan rumah ketika ibunya masuk sebentar ke bagian belakang rumah. Seorang perempuan kemudian disebut mengambil anting anak tersebut.
“Tetangga saya juga pernah, pas anaknya lagi main di depan rumah. Mamanya ke belakang sebentar, langsung dicopot antingnya sama ibu-ibu,” ujar Juli.
Dua korban dibawa ke lokasi berbeda
Menurut Juli, pola kejadian terbaru berbeda dari perampasan sebelumnya. Dalam kasus-kasus terdahulu, pelaku hanya mengambil perhiasan lalu meninggalkan anak di sekitar lokasi. Kali ini, dua korban justru dibawa pergi setelah perhiasan mereka dirampas.
Kedua anak tersebut kemudian diturunkan di tempat yang berbeda. Perhiasan yang diambil berupa kalung emas dengan berat total 2,5 gram yang dikenakan oleh para korban.
Juli mengaku sangat terpukul dan ketakutan setelah mengetahui kedua anaknya sempat dibawa kabur. Ia mengatakan kekhawatirannya semakin besar karena lokasi tempat anak-anak itu ditemukan berada jauh dari permukiman dan tergolong sepi.
“Kalau cuma ambil anting di tempat semula tanpa membawa anaknya, kita masih ya sudahlah. Tapi kalau dibawa kabur begini, kita syok banget. Pikiran saya sudah macam-macam, takut penjualan anak atau organ,” katanya.
Ia menuturkan, salah satu anak ditemukan hingga kawasan pergudangan dan pabrik dengan akses jalan yang sepi, terutama pada malam hari. Sementara itu, Juli mengaku kesulitan mencapai lokasi tersebut karena berada di pelosok dan tidak mudah ditemukan.
“Saya aja pas ke TKP bingung nggak tahu jalan, ternyata masuk ke pelosok-pelosok. Apalagi kakaknya itu ditemuinya sudah sampai daerah pergudangan dan pabrik yang jalanannya sepi banget kalau malam,” ujar Juli.





