Dukungan Industri Patimban: Harap Membuka Peluang

by -306 Views

Pelabuhan Patimban di Subang kembali menjadi sorotan setelah dinilai belum siap sepenuhnya melayani kapal kontainer. Di tengah besarnya investasi yang sudah digelontorkan, fasilitas inti yang dibutuhkan industri masih belum lengkap. Akibatnya, pelaku usaha belum melihat Patimban sebagai pilihan yang benar-benar efisien, sehingga Pelabuhan Tanjung Priok tetap menjadi rujukan utama untuk distribusi barang.

Fasilitas Belum Lengkap, Industri Masih Menunggu

Pengamat Transportasi, Bambang Haryo Soekartono, menilai kekurangan crane menjadi salah satu hambatan paling nyata di Pelabuhan Patimban. Padahal, pelabuhan tersebut semestinya sudah mampu menerima hingga 3,5 juta TEUs per tahun pada 2023. Dengan biaya pembangunan yang mencapai Rp43,22 triliun, menurutnya, kesiapan operasional seharusnya tidak berhenti pada infrastruktur dasar, tetapi juga mencakup perlengkapan pendukung yang membuat arus bongkar muat berjalan lancar.

Jarak Jadi Beban Tambahan Logistik

Selain persoalan fasilitas, Bambang Haryo juga menyoroti posisi Patimban yang dinilai terlalu jauh dari kawasan industri, termasuk Kawasan Industri Subang Smartpolitan dan Pelabuhan Internasional Kertajati. Jarak yang panjang ini berpotensi menambah biaya logistik dan mengurangi daya saing pelaku industri. Dalam praktiknya, ongkos distribusi yang membengkak sering kali menjadi alasan utama perusahaan memilih bertahan di pelabuhan yang sudah mapan.

Butuh Strategi Terpadu Agar Tak Sekadar Jadi Proyek Besar

Bambang Haryo menegaskan, pengembangan pelabuhan tidak bisa berdiri sendiri tanpa dukungan konektivitas yang matang ke pusat-pusat industri. Ia menilai pemerintah perlu segera mengambil langkah penting agar Patimban benar-benar memberi manfaat ekonomi, bukan hanya menjadi proyek besar dengan kapasitas yang belum terserap optimal. Menurutnya, arah pembangunan kawasan industri dan jalur transportasi harus dirancang lebih cermat supaya benar-benar mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Source link