Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan baru-baru ini mengadakan sesi Bincang Bareng Media yang menampilkan Kepala Perwakilan BI Sulsel, Rizky Ernadi Wirmanda. Diskusi ini bertujuan untuk membahas kondisi ekonomi global, nasional, dan regional, serta arah kebijakan yang akan diambil untuk menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Rizky menjelaskan bahwa saat ini ekonomi global masih penuh dengan ketidakpastian. Meskipun ekonomi China sedang membaik, ekonomi negara maju seperti Jepang, Eropa, dan India masih tumbuh lambat. Sementara itu, ekonomi Amerika Serikat belum menunjukkan tanda-tanda pelemahan yang signifikan.
Di sisi lain, pergerakan suku bunga global menunjukkan potensi penurunan. Walaupun terjadi penurunan pada bulan Desember, namun ketidakpastian masih tinggi yang dapat mempengaruhi aliran modal ke negara berkembang. Selain itu, harga emas juga mengalami peningkatan, menunjukkan preferensi investor terhadap instrumen yang lebih aman.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III mencatatkan angka 5,04%, sedikit melambat dari periode sebelumnya namun tetap berada dalam kisaran stabil. Di Sulawesi Selatan, pertumbuhan ekonomi triwulan III malah sedikit lebih tinggi, didorong oleh konsumsi rumah tangga dan investasi. Sektor pertanian menjadi salah satu kontributor terbesar pertumbuhan ekonomi di daerah ini.
Selain itu, inflasi di Sulawesi Selatan tercatat masih dalam target yang ditetapkan, dengan beberapa komoditas seperti emas dan beras menjadi penyebab inflasi terbesar. Bank Indonesia menyoroti kebutuhan akan investasi besar untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi yang ambisius di tahun 2029. Namun, daya saing investasi Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara lain seperti Vietnam dan Malaysia.
Ada sejumlah rekomendasi strategis yang disampaikan untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi di Sulawesi Selatan, termasuk sektor pertanian, perdagangan, industri pengolahan, dan pengendalian inflasi. Dengan potensi besar sektor-sektor tersebut, Sulawesi Selatan memiliki peluang untuk menjadi motor pertumbuhan di Indonesia Timur, asalkan meningkatkan daya saing dan investasi yang diperlukan.





