Bripka Dedy Mantap Bertugas Pantau Kedatangan Polisi Lewat HT

by -208 Views

Samarinda kembali menjadi sorotan setelah nama seorang anggota Brimob, Bripka Dedy Wiratama, muncul dalam dugaan keterlibatan dengan jaringan narkoba. Pada Sabtu, 6 Juni 2026, kasus ini mencuat bukan karena aksi penindakan, melainkan karena seorang aparat justru diduga berada di lingkaran yang semestinya ia awasi.

Bripka Dedy Diduga Jadi Pengawas Lapangan

Dalam jaringan tersebut, Dedy disebut memegang peran sebagai “sniper”. Istilah itu bukan berarti penembak jitu, melainkan pengawas lapangan yang bertugas memantau situasi sekitar dan mengawasi pergerakan orang-orang yang dicurigai. Termasuk di dalamnya kemungkinan kehadiran aparat penegak hukum yang masuk ke area peredaran narkoba.

Peran itu membuat kasus ini terasa janggal dan memantik perhatian publik. Seorang anggota kepolisian seharusnya menjadi pihak yang memburu pelaku kejahatan narkotika, bukan justru diduga membantu menjaga jalannya bisnis haram tersebut.

Gang Langgar dan Sistem Peringatan Dini Jaringan

Pihak kepolisian mengungkap, Dedy bertugas mengawasi kawasan Gang Langgar di Samarinda Seberang, yang disebut sebagai salah satu titik peredaran narkoba. Ia diduga memberi sinyal jika ada gerak-gerik mencurigakan, terutama bila ada aparat yang menyamar sebagai pembeli.

Dengan cara itu, Dedy disebut menjadi semacam sistem peringatan dini bagi jaringan tersebut. Saat situasi dianggap tidak aman, informasi bisa segera diteruskan agar aktivitas peredaran narkoba tidak mudah terjaring operasi.

Komunikasi Lewat HT

Dalam menjalankan tugasnya, Dedy diduga menggunakan handy talky atau HT untuk berkomunikasi dengan anggota jaringan lain. Alat ini dipakai agar koordinasi berlangsung cepat ketika ada tanda-tanda ancaman di lapangan.

Sindikat di Gang Langgar disebut memiliki pola pengamanan yang terorganisir. Para pengawas saling terhubung lewat HT untuk menjaga alur komunikasi tetap singkat dan responsif saat situasi berubah. Kasus yang melibatkan Bripka Dedy Wiratama ini pun menambah panjang daftar ironi dalam perang melawan narkoba, ketika aparat yang seharusnya menjadi benteng justru diduga ikut berada di sisi seberang.